Rabu, 28 September 2011

#Buta, Bisu, Tuli#


Aku tidak percaya bahwa org2 waras itu lebih pandai dan lebih tinggi tingkatannyadaripada mereka yg gila atau terbelakang.
kadang-kadang org gila telah membalikan punggung mereka terhadap kenormalan yang terasing, yang dikondisikan untuk dipercaya oleh kebanyakan orang sebagai hal yang nyata dan dijadikan sasaran yang harus diraih.
Demikian pula, banyak orang terbelakang yang lebih peka karena mereka merasakan banyak hal dengan cara yg lebih sensual di bandingkan "orang-orang normal". Mereka melewatkan kerumitan yang kadang-kadang sangat merusak dan hanya bergantung pada reaksi dan tanggapan naluriah yang sederhana.
Dalam pengertian ini, aku bisa dikatakan gila atau terbelakang. Asku juga akan menambahkan tuli, bisu, dan buta. Karena, meskipun kenyataan ini selalu dibantah oleh apa yang kupahami atau ungkapkan, tetapi seperti itulah aku kerap memahami dirikku sendiri, dan menyelaraskan tingkah lakuku dengan pemahaman tersebut.
Aku tidak percaya kalau aku gila, meskipun orang-orang di seputarku sering membuatku memercayai hal ini. Tetapi, jika aku memang memiliki kecenderungan untuk mengidap penyakit mental, aku yakin bahwa keterasingan di dalam penjara saja telah cukup memicu stress  untuk menjadi penyebabnya.
Ada kalanya aku dianggap sebagai gila dan tolol, atau istilah halusnya, naïf. Seperti itulah keadaan duniaku yang memukau, yang merupakan caraku untuk mengatasi teror-teror emosiku. Padahal, melalui emosi-emosi itulah kebanyakan orang menarik manfaat yg sebanyakbanyaknya dari kehidupan, dari emosi-emosi yang baik.
Seandainya ………. Bersikap baik dan penuh cinta kasih, berusaha melibatkan atu memahamiku, aku yakin, aku tidak akan pernah punya kebebasan untuk menemukan sudut-sudut emosional dunia yang terlepas, tempat aku belajar dan mengajari diriku berbagai hal; karakter-karakterku.

*Dunia dibalik kaca*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar