Jumat, 30 September 2011

~itu (cinta)~


Gadis manis itu bermata sendu sembab. Berdiri di pinggiran sudut harapan. Kesedihannya terpancar hebat disaat ia ingin meraih cintanya sebagai kata yang berujud, dan berjasad. Agar ia bisa merengkuh dan menggenggamnya. Akankah cinta itu harus berarti memiliki?.  Begitulah harapan gadis itu

Cinta itu energi  jiwa. Begitulah kata sebagian orang. Sebagai energi memang tak bisa dibendakan. Tidak nampak tapi nyata. Ia memang bisa berfungsi sebagai daya gerak, pendorong, dapat dirasa, dan mewariskan pesona pula; bahagia maupun lara. Itulah sebabnya cinta tidak cukup ditafsir dengan bahasa sederhana, tak mampu diurai dan disyarah dengan satu ihtisar. Seribu satu bahasa pun takkan mampu menerjemahkan kedahsyatan makna cinta. Berjuta orangpun telah membahasakan cinta, tetapi dengan berjuta rasa dan beragam perasaan.

Cinta itu hutan
meneduhkan, cantik tapi kadang kita tersesat di dalamnya
Cinta itu matahari
panas membakar tapi ia berguna
Cinta itu hujan
selalu kita berlari agar tak terguyur tapi selalu kita kenang saat kemarau menyerang
cinta itu awan
kadang berarak beriringan kadang hilang tak tahu kemana
cinta itu udara bertiup sepoi
Menyejukkan dan membawa rasa,
Bagai angin semilir. Bait jawabanku untuk gadis manis itu. Bagai udara lembut ia datang membawa beragam rasa dan berjuta makna. Bila ia bertiup membawa wewangian karena cinta telah melewati dirinya dari sumber wewangian. Terkadang ia membawa bau tak semerbak sebab ia telah melewati lintasan sumber tak semerbak. Sangat tergantung pada dari mana muqaddimah cinta itu berawal.

Bagai angin semilir. Ia hanya bisa dirasa. Bahkan lebih dari itu, cinta itu oksigen. Tidak nampak tapi dapat dirasa. Dibutuhkan oleh keseluruhan makhluk. Cinta takdirnya menghampiri tanpa melihat ras dan suku, agama dan keyakinan. Kabilah maupun bangsa-bangsa. Bahkan ia menjadi perekat perbedaan penciptaan makhluk. Ia hadir dimana-mana dan memberi kesejukan kepada semua makhluk.

Tapi cinta itu bisa menjadi gelombang angin membadai yang membawa petaka. Bagai air bah yang bisa meluluhlantakkan sisi-sisi kemanusiaan. Menghancurleburkan keangkuhan. Energi yang dibawanya teramat dahsyat tetapi lembut. Melembutkan sifat-sifat diri bagai tiupan angin sepoi. Nikmati rasanya dan keharumannya tetapi engkau tak bisa memilikinya. Karena ia hanya bisa dirasa dan itulah takdir muasalnya. Jika engkau ingin memiliki, maka rengkuhanmu bagai ihtiar memegang tiupan angin. Makin besar tenaga rengkuhan, makin meranalah hidupmu. Bagai naik telapak tangga, makin tinggi engkau berada maka jatuhnyapun makin menyakitkan.

Bila sang gadis berdiri d pinggir harapan itu menatapnya jauh dengan senyuman, angin itu ia rasakan sebagai tiupan lembut untuk menikmati keharumannya. Dan diantara bekas keharuman itu terasa dalam dinding-dinding kulit perasaan dan hatinya. Hasilnya: makin membuatnya menyelami watak cintanya dan kelembutan-kelembutan dirinya. Benar ungkapan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalamRaudhatul Muhibbin wa Naudzah Al-Musytaqin ia berkata, “Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui akan watak dan kelemahan-kelemahan dirinya dalam cinta kekasihnya, sejatinya ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.”

Subhanallah!. Itulah energi cinta. Pesona mozaik cinta. Energi yang membangunkan dari tidur panjang ketidaktahuan akan eksitensi dirinya. Menggugah dari terbenamnya selama ini oleh kejumudan watak diri. Ia akan semakin cerdas dan terampil dalam menghiasi dirinya lebih baik dan indah dalam perilakunya. Bahkan mengokohkan dirinya untuk lebih hidup dan berdayaguna. Itulah sebabnya Erich Fromm menjelaskannya sebagai kekuatan perubah. “…Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif dan lebih menjadi dririnya sendiri.”

Jadi, rasakanlah pesona keindahan dan kedahsyatan energi cintamu. Walau tidak mesti harus memiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar