Rabu, 01 Agustus 2012

Di penghujung Juli

masih mencari kata apa ya yang cocok buat mengawali tulisan ini...

kemarin, senja begitu saja meninggalkan ku.
tanpa jingga kemerahannya yang selalu memesona..
ah, biarlah, mungkin sebenarnya akulah yang terlampau sering mengabaikannya,
menunggu hujan yang belum kunjung datang.

senja sudah benar-benar berlalu,
menyisakan gurat-gurat sisa cahaya matahari, selalu indah.
menyaksikan sekitar yang berubah wujud menjadi siluet
kusambut malam.

Ah, iya, malam ini penghujung juli, lalu apa istimewa nya?
belum aku temukan.
bukankah aku selalu (merasa) damai dalam pelukan malam,
memilih duduk di teras dan bersandar pada tiang beranda rumah.
menikmati dinginya angin yang seperti berbisik "kamu tidak sendiri, jika kau bersedih, titipkan saja kesedihanmu padaku, biar aku bawa terbang, menjauh darimu, aku tak akan pernah membawanya kembali"
sesak, menarik nafas panjang lalu tertunduk.
Nyamuk-nyamuk kecilpun tak kalah usil, tega menghisap darah dari tubuhku yang kurus ini, memberi reaksi gatal, memecah semua lamunan indah yang sedang ku ukir.
Aku mendongak ke langit,-bukan langit-langit kamar yang sengaja ku buat ramai dengan menggantungkan bangau-bangau kertas itu-
malam ini langit nya sempurna ramai, bertabur bintang yang indahnya bisa dinikmati oleh semua makhluk dipenjuru bumi, gratis.
kupandang lekat 1 bintang paling terang, sirius, ya meski tak tahu pasti, tapi aku menyimpulkan bahwa bintang paling terang malam itu, itulah sirius, sirius yang ku kagumi. lamat-lamat kuperhatikan titik terang di kejauhan itu, tetapi lintasan awan membuatnya redup, aku mendengus sebal, ternyata awan itu tidak sekedar melintas, awan itu tega berlama-lama menutup cahaya yang sedang kunikmati. Tak lama sesuatu melintas dipikiranku, tentang apa yang sebelumnya aku lihat, sirius, bintang paling terang itu, apa benar yang tadi aku tunjuk, lalu bagaimana kalau sebenarnya ada bintang yang cahaya nya lebih terang yang mungkin bersembunyi di balik awan, lalu dimana siriusku?
bintang yang tadi begitu terang kini telah hilang, cahaya "terterangnya" yang otomatis berpindah ke bintang yang lain, aku menelan ludah.
"begitulah, karena yang seharusnya kau nilai adalah apa yang kau lihat sekarang, karena yang banyak pasti akan habis, dan yang baru pasti akan basi, dan yang akan kau nikmati adalah apa yang ada dihadapanmu sekarang" angin melintas seperti berbisik lagi.
ah ya.. seseorang pernah berkata "jika disana ada bintang yang hilang, maka ijinkan matamu untuk berpendar mencari bintang yang datang" kalimat itu sebenarnya hiburan saja, asal bunyi, tanpa makna mendalam, aku dapatkan beberapa tahun lalu.

Lalu pandanganku beralih pada purnama yang nyaris sempurna, ya, mungkin akan benar-benar sempurna 2 malam lagi, tak apalah, akan aku nikmati prosesnya, bukankah beberapa hari lalu purnama -yang nyaris sempurna- itu masih berupa sabit, dan setelah sempurna pun. ia akan kembali sabit bukan? ah, sabit dan purnama tetap satu raga, ia tetap memesona.
begitulah, tidak ada yang abadi di dunia ini.

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), (QS. 16:12)




Ah... sebenarnya bukan ini yang ingin ku tulis, tapi semua mengalir begitu saja, meskipun ngalor ngidul, tapi tetap tulisan ^_^








Tidak ada komentar:

Posting Komentar