Senin, 27 Agustus 2012

Yiruma ~kiss the rain~

I often close my eyes
And I can see you smile
You reach out for my hand
And I'm woken from my dream
Although your heart is mine
It's hollow inside
I never had your love
And I never will

And every night
I lie awake
Thinking maybe you love me
Like I've always loved you
But how can you love me
Like I loved you when
You can't even look me straight in my eyes


I've never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so alone
Aren't you supposed to be
The one to wipe my tears
The on to say that you would never leave

The waters calm and still
My reflection is there
I see you holding me
But then you disappear
All that is left of you
Is a memory
On that only, exists in my dreams

I don't know what hurts you
But I can feel it too
And it just hurts so much
To know that I can't do a thing
And deep down in my heart
Somehow I just know
That no matter what
I'll always love you


So why am I still here in the rain

Sabtu, 11 Agustus 2012

EVERLASTING

Oleh : Tere Liye

Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat, sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.

Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya.

Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.

Hampir kebanyakan orang akan bilang: "Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati." Ada sih yg jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart.

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari "mata", mungkin 90%. Sisanya dari "telinga". Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: "ya" atau "tidak". Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak.

Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera menjadi simbolisasi cinta tersebut.

Tetapi apapun pintu dan prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan berdebat soal ini. Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu. Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya? Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.

Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Yaps, inilah hakikat cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi banyak kebaikan.

Apakah itu sementara? Memang sementara, nah, semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan merasakannya.



***juga naskah lama, 2007

Kamis, 09 Agustus 2012

Mereka Bilang



Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut sasak mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.

Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.

Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja mereka geleng-geleng.

Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik
dan sok bau surga.

Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada, meskipun letaknya di atas tahta emas.

Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak.

Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.

Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)

Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga…

…Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat…

Manusia dibekali akal oleh Alloh
Manusia diberi kebebasan untuk memilih hidupnya
Dan, there is only one choice
Baik dan Buruk
Benar dan Salah
Surga dan Neraka
Tidak ada pilihan Netral atau diantara kedua pilihan tersebut

“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh)” (Qs. Al-An’am 116).

Ada dua golongan dari penghuni neraka yang Aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)

“Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qs. Ar-Rum 6).



*dari FB nya Henni

Selasa, 07 Agustus 2012

Tangis ini

Tangisan ini,  apakah untuk setiap yang hilang dalam penantianku?
Ataukah tangisan ini, untuk sesuatu yang sangat berharga yang terus menjauh dariku.

Yaa Allah, sampai detik ini aku masih memeluk erat mimpi itu,
pernah sesekali berusaha melepasnya, tapi tak pernah mampu benar-benar melepasnya.
harus dibagaimanakan lagi keadaan ini.

Senin, 06 Agustus 2012

Rindu hujan


Taukah kau hujan.. Rinduku sebanyak tetesanmu dan seluas jangkauanmu.. Rinduku sedingin auramu dan meluap-luap seperti sungai-sungai yang menyambutmu..

Kamis, 02 Agustus 2012

mengapa kita ?

Merangkai aku dan kau menjadi "kita"
kita?? ah, berani-beraninya aku memikirkan hal itu.

selalu

"Aku lelah, bolehkah sebentar saja aku menangis, hanya hingga lelah itu bosan berlama-lama bersisian denganku"

dan kau tersenyum, senyum yang selalu ku cintai, dulu, hari ini, dan hari-hari berikutnya.

"menangislah, pundak ini, tak akan pernah berkeberatan menjadi tempatmu bersandar, apakah kau pikir aku akan tega membiarkanmu terlihat payah seperti itu?"

Ah, iya, kau memang selalu baik, terlalu malah.

Rabu, 01 Agustus 2012

kau dan sepenggal senja yang hujan

seseorang yang berwujud kamu
kini telah jadi kenangan.

tak usah lagi diceritakan detail kisah kita,
karena kamu telah sempurna menjadi sebuah kenangan,hanya kenangan.
yang suatu saat mungkin akan menjadi alasan ketika aku tersenyum sendirian.
atau bisa jadi juga alasan ketika aku terpaksa membiarkan bulir-bulir asin yang keluar dari sudut mata, entahlah.

Aku sungguh telah kehilangan kesempatan untuk benar-benar menunjukan betapa aku menyayangimu, karena kau telah memilih pergi dari mimpi kita semula.
hal-hal indah yang pernah kau mimpikan, mungkin akan kau wujudkan dengan seseorang yang telah berhasil menggeser posisiku di hatimu.
ah, cinta, mengapa seolah menjadi ajang kompetisi ?
ketika yang (terlihat) lebih baik hadir, maka yang lama pun tersisihkan.


Aku masih menyayangimu dengan sederhana, sesederhana alasan mengapa perasaan itu bisa tumbuh.

Aku akan selalu mengenangmu bersama senja dan hujan, sebab yang telah mempertemukan kita ^_^

Di penghujung Juli

masih mencari kata apa ya yang cocok buat mengawali tulisan ini...

kemarin, senja begitu saja meninggalkan ku.
tanpa jingga kemerahannya yang selalu memesona..
ah, biarlah, mungkin sebenarnya akulah yang terlampau sering mengabaikannya,
menunggu hujan yang belum kunjung datang.

senja sudah benar-benar berlalu,
menyisakan gurat-gurat sisa cahaya matahari, selalu indah.
menyaksikan sekitar yang berubah wujud menjadi siluet
kusambut malam.

Ah, iya, malam ini penghujung juli, lalu apa istimewa nya?
belum aku temukan.
bukankah aku selalu (merasa) damai dalam pelukan malam,
memilih duduk di teras dan bersandar pada tiang beranda rumah.
menikmati dinginya angin yang seperti berbisik "kamu tidak sendiri, jika kau bersedih, titipkan saja kesedihanmu padaku, biar aku bawa terbang, menjauh darimu, aku tak akan pernah membawanya kembali"
sesak, menarik nafas panjang lalu tertunduk.
Nyamuk-nyamuk kecilpun tak kalah usil, tega menghisap darah dari tubuhku yang kurus ini, memberi reaksi gatal, memecah semua lamunan indah yang sedang ku ukir.
Aku mendongak ke langit,-bukan langit-langit kamar yang sengaja ku buat ramai dengan menggantungkan bangau-bangau kertas itu-
malam ini langit nya sempurna ramai, bertabur bintang yang indahnya bisa dinikmati oleh semua makhluk dipenjuru bumi, gratis.
kupandang lekat 1 bintang paling terang, sirius, ya meski tak tahu pasti, tapi aku menyimpulkan bahwa bintang paling terang malam itu, itulah sirius, sirius yang ku kagumi. lamat-lamat kuperhatikan titik terang di kejauhan itu, tetapi lintasan awan membuatnya redup, aku mendengus sebal, ternyata awan itu tidak sekedar melintas, awan itu tega berlama-lama menutup cahaya yang sedang kunikmati. Tak lama sesuatu melintas dipikiranku, tentang apa yang sebelumnya aku lihat, sirius, bintang paling terang itu, apa benar yang tadi aku tunjuk, lalu bagaimana kalau sebenarnya ada bintang yang cahaya nya lebih terang yang mungkin bersembunyi di balik awan, lalu dimana siriusku?
bintang yang tadi begitu terang kini telah hilang, cahaya "terterangnya" yang otomatis berpindah ke bintang yang lain, aku menelan ludah.
"begitulah, karena yang seharusnya kau nilai adalah apa yang kau lihat sekarang, karena yang banyak pasti akan habis, dan yang baru pasti akan basi, dan yang akan kau nikmati adalah apa yang ada dihadapanmu sekarang" angin melintas seperti berbisik lagi.
ah ya.. seseorang pernah berkata "jika disana ada bintang yang hilang, maka ijinkan matamu untuk berpendar mencari bintang yang datang" kalimat itu sebenarnya hiburan saja, asal bunyi, tanpa makna mendalam, aku dapatkan beberapa tahun lalu.

Lalu pandanganku beralih pada purnama yang nyaris sempurna, ya, mungkin akan benar-benar sempurna 2 malam lagi, tak apalah, akan aku nikmati prosesnya, bukankah beberapa hari lalu purnama -yang nyaris sempurna- itu masih berupa sabit, dan setelah sempurna pun. ia akan kembali sabit bukan? ah, sabit dan purnama tetap satu raga, ia tetap memesona.
begitulah, tidak ada yang abadi di dunia ini.

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), (QS. 16:12)




Ah... sebenarnya bukan ini yang ingin ku tulis, tapi semua mengalir begitu saja, meskipun ngalor ngidul, tapi tetap tulisan ^_^