Senin, 24 September 2012

Pagi yang basah



Pagi yang basah,
Tak ada yang berhak menghapus kebahagiaanku pagi ini, sekalipun harus mengikuti upacara di bawah siraman hujan, dan menikmati dingin yang teramat hingga badanku tak henti menggigil.

oh ya, apa kabarmu hari ini?
semoga kebaikan selalu menyertaimu dan orang-orang yang kau sayangi.
pagi ini hujan, seingatku ini hujan pertama setelah kemarau yang begitu lama, apa kau masih menyukainya juga?

ah, aku tidak akan memaksamu untuk mengenang tentang hujan yang pernah menahan kita di halte itu, atau tentang gerimis yang memaksa kita berlari-lari kecil dan mengakhiri obrolan ringan diatas bola meriam kota tua itu, tidak akan.
Apa kau masih seramah dahulu, ketika memintaku tidur tidak terlalu larut supaya tidak kesiangan untuk melaksanakan QL ?
Apa keinginanmu untuk mendaki gunung bersama itu, masih ada? ku rasa tidak, bukan begitu?
dan hal itu memang tak akan pernah ada.
dan tentang bangau kertas yang sempat kita buat bersama, indah. tapi nyatanya aku tak bisa mengindahkan kita.

Ah, sudahlah, meski rindu itu masih sering hadir dalam shubuh, aku mulai terbiasa untuk tidak mendengarkan suara tilawahmu, dan kini berganti keping-keping murotal, sama saja kan?
aku mulai menikmati hari-hari sepeninggalmu dengan normal.

Apa kau amnesia?
semoga tidak.
sebenarnya aku hanya ingin bertanya, tentang alasan mengapa kau begitu ingin menjauh dan menciptakan jarak hingga aku terlihat begitu payah begini dalam upaya meruntuhkannya?
apa aku berbuat salah? hingga kau sengaja amnesia untuk sekedar mengingat bahwa kita pernah saling mengenal.
hmm, mungkin aku tidak akan pernah menemukan jawabannya.
meski tidak semua pertanyaan bisa mendapatkan jawaban,
tapi harus kau ketahui, pertanyaan itu ada karena membutuhkan jawaban.


dan tentang hujan,
diam-diam aku selalu menitipkan do'a dalam rinainya, untukmu, berharap hujan akan menyampaikan usahaku  untuk membahagiakakanmu, sekalipun sudah terlambat.
Terimakasih karena pernah bersedia menjadi tokoh di setiap kisahku, aku bahagia berkesempatan mengenalmu.

~Nyatanya aku memang di biarkan sendiri dalam kisah ini~

5 komentar:

  1. ini, jadi pengen nangis bacanya, very nice and touchable stories, :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. jgn nangis ah.
      masih dalam proses belajar, semoga kesannya lebih baik.
      terimaksih sudah berkunjung. :)

      Hapus
  2. kereeeen.... merinding aku baca.... seperti membaca buku harian sendiri.... lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih perlu banyak masukan nih...
      mksih udah dolan kemari :)

      Hapus
  3. Sabar ya. Allah Maha Berkehendak, dan punya rencana yang lebih indah. Selalu semangat dan senyumlah kepada Dunia yang indah ini

    BalasHapus