Sabtu, 07 Desember 2013

Bukan Cleopatra

Gelap telah menyelimuti langit yang kupandang, sesekali angin dingin menyentuh bagian paling luar kulitku, diantara tumpukan cerita yang telah mengabadi dalam lembar - lembar kertas, yang paling setia mengantarku pada lelap beberapa tahun ini. Tanpa aba-aba, gerimis tumpah dalam ruang persegi 4x4. Akhir-akhir ini aku merasa lebih sering menarik nafas, dalam.


Perasaan kalah ini benar-benar membuatku kesepian. Aku, 21 tanpa keahlian apapun, melakukan sesuatu secara mendatar tanpa tanjakan-tanjakan yang berarti, tak rupawan, tak berpendidikan tinggi, bertingkah bocah dan aneh. Jadi, bagaimana bisa aku percaya diri untuk bersisian dengan orang-orang sepertimu. meski begitu, aku tetap bersyukur, beberapa orang masih bisa menerimaku dengan kesabaran yang penuh, meski tak jarang juga dari mereka yang perlahan membuangku.-menjadi seseorang yang benar-benar dilupakan-

Aku tak sanggup bercerita tentang apa yang telah kuhasilkan, karena seringnya memang aku tak berhasil. Tapi setidaknya aku masih memiliki harapan yang bisa terus ku pelihara, meski harapan-harapan itu banyaknya tak pernah berumur panjang, dan berakhir dalam ketakberwujudan. Tapi tak perlu khawatir, aku selalu bisa menumbuhkannya lagi, dan lagi.

Hey, tak usah khawatir, tidak semua orang memperlakukanmu seburuk itu.
masih ada orang yang begitu peduli dan menyayangimu, bahkan melebihi orang-orang yang seharusnya menyayangimu.

Dan, lebih itu lah yang membuatku selalu takut dan tak percaya diri, bagaimana jika ternyata aku bukanlah orang yang baik dan tepat untuknya, takut tak berhasil membahagiakannya, bagaimana jika suatu hari nanti aku mengecewakannya, mempermalukan, dan bayang-bayang sejenis ini selalu saja melelahkan. Tapi, ketakutan ini juga yang akhirnya selalu mendorongku untuk menjadi seorang yang lebih baik, perubahan kecil yang meskipun tak menjadikan ku seimbang bersisian dengannya, setidaknya menjadikanku pantas dan tak memalukan dalam pengakuannya kelak, harapanku.

Harapan-harapan besar dan indah yang disuguhkannya itu, meskipun tak pernah tahu apakah benar itu untukku, tapi aku telah terlanjur naif, menerimanya sebagai cara untuk membahagiakan diriku sendiri.

Aku harus lebih kuat, dan aku hanya bisa berdo'a. Hanya do'a, karena aku tak pernah memiliki kekuatan yang lain selain itu.
Semoga Tuhan mengizinkan dan menyegerakan untukkku membahagiakannya.

“Aku pernah merasa menjadi manusia paling dikhianati di dunia, atau paling bersalah, atau paling bermasalah, atau paling tak beruntung hidupnya. Aku pernah berjalan sendirian di pinggir jalanan kota, pada senja penghabisan, sementara bus dan mobil-mobil berjalan seperti manusia-manusia lainnya yang tak perhatian. Aku pernah merasa tak punya teman untuk sekadar mendengarkan apa yang kurasakan.”-fahd-





Di pintu senja, menunggu hujan reda.
*NP
  David Archuleta - A Little Too Not Over You

~Senyum Purnama~

Memandang sabit malam ini,
Menanti purnama kemudian.
Sejatinya,
Sabit dan purnama tetap satu raga.

-Senyum dan matamu-
Dalam, tenang dan istimewa.



Sabit malam ketujuh bulan Desember

Senin, 18 November 2013

Gn. Canggah (1.600mdpl) ~sekian, dan terimakasih~


Penanda waktu di komputer menunjukan pukul 20:40 wib, tiba-tiba "rembulan dilangit hatiku" terdengar dari ponselku, panggilan masuk dari Bang Kur, awalnya saya pikir mungkin ada perlu terkait pekerjaan saya dengan beliau yang memang satu divisi, tapi ternyata dari ujung telepon saya mendengar beliau mengajak saya untuk mendampingi murid yang tergabung dalam organisasi pegiat alam di sekolah yang bernaung pada lembaga tempat saya bekerja, sempet bingung juga, kalau di tolak, ini kesempatan, kapan lagi saya bisa hiking di sela-sela pekerjaan yang lumayan banyak mencuri waktu belakangan ini, dan kalaupun di terima, saya tidak ada persiapan apa-apa, khususnya logistik, karena tidak mungkin saya keluar malam itu juga mencari apa-apa yang belum sempat saya siapkan, dan sebenarnya, hari ahad itu, saya banyak agenda juga, Undangan, kajian, sampai acara masak bareng ^_^.

Tapi, karena informasi yang saya dapat dari Bang kur, bahwa anak-anak tidak ada pendamping perempuan, juga waktu perjalanan yang relatif sebentar (katanya) "berangkat jam 5 shubuh, jam 5 sore sudah pulang ke asrama" mempertimbangkan itu, akhirnya saya putuskan untuk ikut, dengan persiapan seadanya.

Pukul 4.30, dengan mata yang sepertinya masih kurang ikhlas dipaksa bangun yang memang baru tidur 3 jam saja, saya siap-siap, packing dadakan, mandi kemudian meluncur menemui anak-anak di halaman asrama yang ternyata belum ada siapa-siapa.
Setelah briefing beberapa menit dan mendapat beberapa pengarahan dari pembina PA, pukul 06.00 kami, 16 orang saat itu termasuk saya, satu per satu menaiki truck merah saga yang akan membawa kami ke lokasi titik awal pendakian.

Pukul 07.00, kami start pendakian, melewati beberapa rumah penduduk, kemudian bertemu petakan petakan sawah, karena di daerah dan memang bersebelahan  dengan lokasi curug cileat, awalnya saya pikir Canggah ini trek nya tidak akan jauh beda dengan perjalanan menuju cileat, ya, setengah jam pertama memang datar-datar saja, hanya sawah. Setelah itu, jalan mulai menanjak nyaris vertikal, kami masih seneng-senang aja menikmati perjalanan, tapi setelah beberapa jam jalan yang di tempuh terus menanjak saya sendiri mulai penasaran sejauh apa sih ini, tapi karena syarat dari pembina nya itu dilarang menanyakan "berapa lama lagi" jadi yaa, di tahan aja rasa penasarannya.
Setelah sekitar 2 jam perjalanan, salah satu peserta collapse, meskipun sempat tapping sekitar 30 menit, tapi akhirnya terpaksa untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan memutuskan turun, lebih bikin khawatir lagi, saya bingung bagaimana dia turunnya, karena untuk sampai di lokasi saat itu, trek benar2 vertikal, bahkan kami menggunakan bantuan webbing dan carnmentel untuk memanjat, saya pikir turunnya pasti lebih repot, setelah diskusi, akhirnya pembina memutuskan peserta turun didampingi pendamping ikhwan, sedang saya masih harus mendampingi peserta yang lain. usai melepas kepulangan Savana, saya dan beberapa peserta melanjutkan perjalanan lagi, 3 jam perjalanan, tanpa tahu kapan akan bertemu puncak.
Banyaknya peserta, dengan kondisi jalan yang memang benar-benar setapak, kanan tebing, kiri jurang, membuat kami agak kesulitan berjalan cepat, hari sudah mulai terik, matahari pun sudah beranjak tepat diatas kepala kami, sedang perjalanan belum sampai juga setengahnya, hampir satu jam kami mengantri untuk memanjat tebing, dibantu webbing dan carnmantel  satu per satu peserta melewati jalur, kami yang dibelakang bahkan sempat menikmati makan siang, karena memang jeda saat mengantri itulah yang kami jadikan untuk waktu istirahat, meski awalnya tidak menyangka akan selama itu.
Lepas 1 jam itu, akhirnya semua peserta juga pembimbing berhasil memanjat tebing meski dengan susah payah (ditambah peserta akhwat yang pake rok), perjalanan di depan masih terlihat sangat menanjak, saat itu sudah tiba waktu dzuhur sebenarnya, tapi karena tidak ada tempat yang mungkin untuk melaksanakan sholat, salah satu pembina menyarankan agar kami sholat apabila sudah sampai di pertigaan antara jalur ke puncak dan jalur turun.
Matahari mulai condong ke barat, peserta termasuk saya sendiri mulai penasaran, sejauh apalagi sih perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai di puncak. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul setengah 3, ketika kami tiba di pertigaan sireum beureum, tidak ada pos, tidak ada shelter, hanya berupa tanah yang lumayan lapang mungkin 3x3m, bisa juga kurang dari itu, ditandai dengan pohon yang entah apa, cukup rindang untuk sekadar melindungi kami dari sengatan langsung matahari.
Setelah istirahat dan makan, kami bergegas melaksanakan sholat, menjama' takhir ashar dan dzuhur, tidak ada air jangankan untuk wudhu, untuk bekal minum saja sudah sangat limit.. fyuuuh,, benar-benar perjalanan yang subhanallah.
Karena tempat yang tidak cukup menampung sekitar 25an peserta yang akan melaksanakan sholat, akhirnya kami dipecah, sebagian melaksanakan sholat di TKP, sisanya diarahkan untuk melaksanakan sholat di puncak, yang katanya sekitar setengah jam saja, saya mengikuti beberapa peserta akhirnya berjalan menuju puncak, jalurnya masih menanjak meski tidak seterjal yang sudah-sudah, tapi tetap saja menuntut kami menyibak tumbuhan-tumbuhan khas ketinggian yang malang melintang sepanjang jalur.

Rupanya ujian tidak selesai sampai disitu, untuk mencapai puncak, kami masih harus mendaki tebing yang baru bisa dilalui dengan bantuan webbing dan carnmentel (lagi), sedangkan waktu semakin limit, beberapa peserta berhasil sampai dipuncak, dan saya juga banyak peserta lain, nampaknya harus ikhlas gagal muncak ke ketinggian 1600mdpl itu, nyesek memang, tapi ya, bisa apa.

Saya rasa, apa yang saya cari telah cukup saya dapatkan, tidak mesti sampai ke puncak, saya telah mendapat pelajaran dari perjalanan ini, bahwa puncak hanyalah rupa keegoisan kita ketika begitu ingin menggapainya, dan sebenarnya, puncak juga bukanlah tujuan akhir, ia hanya bonus dari sebuah perjalanan panjang, karena nyatanya (sejauh yang saya tahu) sangat jarang saya menemui pendaki yang ingin tinggal lama di puncak apalagi menetap disana, hehe. karena ya,, memang yang menjadikan gunung itu istimewa, ya karena ketidakbiasaan kita menikmatinya #mungkin

Dikejauhan terlihat anak-anak yang masih menggantung di tebing, turun dari puncak, dan kami segera balik kanan. Mendung mulai menyelimuti langit sore itu, dan hujan pun, yang seharusnya membahagiakan berubah wujud menjadi bentuk kekhawatiran, membayangkan medan turun yang akan kami tempuh sangatlah istimewa.

Benar saja, setibanya di pertigaan sireum beureum, air-air langit itu mulai jatuh satu-satu, kami semua begegas untuk turun meninggalkan lokasi, lengkap dengan raincoat yang telah kami kenakan. tidak sampai 15 menit kami berjalan turun, hujan menderas disertai kilat dan petir, geluduk juga menambah ramai perjalanan kami.
Jalur pun menjadi sangat licin, dan entah sepanjang apa, kami turun dengan cara "merosot" di jalur yang telah berupa trek lumpur, masih dengan bantuan webbing dan carnmentel kami berjalan dengan terpapah, langit semakin gelap, hujan menderas, membuat suasana hutan terasa hmmm, horor. hehe lama, kemudian sayup terdengar suara adzan di kejauhan, pertanda telah memasuki waktu maghrib, rencana kembali ke asrama pukul 5 sore pun pupus, tak ada tempat berteduh atau lahan untuk sekadar memasang flyset, sepanjang jalur hanya berupa jalan setapak, dengan tumbuhan rotan berduri sebelah kanan dan jurang sebelah kiri yang tertutup timbunan humus, dalam kondisi seperti itu, peserta yang tadinya freak pun, mulai menunjukan kecemasan, beberapa menanyakan kapan sampai, mulai kedinginan, dan lelah tentu saja. Saat itu, pembina memprediksi mungkin sekitar isya kita sampai di perkampungan, cukup menghibur, bahwa perjalanan tak akan lama lagi. Hujan mulai reda, tapi langit telah sempurna gelap, dengan bantuan penerangan, kami melangkah pelan-pelan diatas tanah yang menjadi lumpur, bertumpu pada webbing yang telah di bentangkan dari pohon ke pohon. Isya sudah berlalu, jarum jam di pergelangan tanganku hampir menuju angka 8, penerangan mulai redup, dan entah beberapa kali juga ponsel yang saya simpan dalam ransel bergetar, panggilan masuk dan pesan singkat, sudah saya diduga, pasti orang asrama yang khawatir, Bang Kur, yang sepanjang jalur ada di belakang saya menyarankan agar saya menjawab teleponnya, dengan kondisi tangan yang penuh lumpur, saya pun membongkar ransel dan mencari sumber getaran itu, 5 missed call, 4 message. beruntungnya, sinyal si merah pun si kuning cukup stabil, salah satu pesan memberitahu, bahwa masyarakat setempat akan naik menyusul kita. Deg.. jadi tambah panik, tapi karena menurut pembina keadaan masih bisa dikondisikan, lewat sms, kami pun meminta masyarakat untuk bertahan saja. Di tengah perjalanan tiba-tiba peserta di depan saya stag, tak bisa bergerat, setelah mencari tahu, ternyata ada peserta yang collapse, setelah coba di tapping, mungkin faktor lelah juga, kondisinya tidak kunjung membaik, dan terpaksa harus dievakuasi dengan membawanya turun menggunakan tandu, 1 jam berlalu untuk proses evakuasi, yang memang kami cukup kesulitan, selain penerangan yang kurang, kondisi yang masih gerimis, panitia juga dalam keadaan menggigil, peserta juga pingsan di tempat yang sangat tidak strategis #duuh.

Saya tidak tahu level kekhawatiran masyarakat malam itu, tak lama beberapa penduduk datang membantu dan menggotong peserta kami yang pingsan, dalam keadaan licin dan menurun seperti itu, kami saja yang hanya menggendong ransel sangat kesulitan, bagaimana mereka menggotong manusia,#haduuh, jempol deh buat bapak-bapaknya.
Jam 10 masih di tengah hutan, dan hampir tersesat juga, peserta mulai galau, beberapa memanfaatkan waktu mengantri untuk tidur, lapar? pasti, menikmati macam-macam biskuit rasa lumpur yang menempel ditangan, tak ada air minum karena perbekalanya sudah habis, beberapa, saya temukan juga sedang menangis, masya Allah, saat-saat seperti itu, hanya pertolongan Allah yang benar- benar kami yakini, tak peduli lagi bakalan sampai jam berapa, kami selamat, itu satu pengharapan terbesar kami.

Penduduk yang naik mulai banyak, jalur licin dan batuan pun terasa semakin menyiksa dalam keadaan yang ngantuk, rasanya ingin terpejam dan ketika membuka mata kami sudah tidur nayman di kamar, tapi sebagai yang paling tua (T_T) diantara anak-anak itu, saya harus lebih bisa meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. sms dan telpon dari asrama pun bergantian, saya bisa membayangkan kekhawatiran mereka, mengetahui anak-anaknya malam-malam terjebak di tengah hutan yang hujan >_< "ajiw, suara kamu udah mulai lemes" fyuuuh nada khawatir nya malah bikin tambah lemes.
Sekitar pukul 11, kami keluar dari hutan, memasuki kawasan savana, disana sudah ramai penduduk yang menunggu, termasuk dari kantor juga yang menyusul, jalan mulai terang, cahaya purnama malam itu tak terhalang apapun, indah, Subhanallah !! cukup mengobati lelah kami.

Kurang lebih setengah jam dari situ, tibalah kami di pemukiman penduduk, disana sudah nampak ramai, dengan wajah-wajah penuh kekhawatiran menunggu kedatangan kami, teh hangat pun disediakan untuk kami (baik banget T_T), tak menunggu lama, kami segera membersihkan badan sekadarnya, cukup membuang lumpur yang membuat semua pakaian kami menjadi seragam warna cokelat >,<.
Setelah merasa nyaman, kmi pun pamit, dan satu per satu peserta menaiki merah saga yang telah menunggu kami sejak sore.

Perjalanan meninggalkan pemukiman penduduk, menembus selimut kabut tengah malam itu, sekitar pukul satu dini hari kami tiba di asrama, dan saya kembali ke rumdis, disana nampak bunda ( yang kami "orangtua" kan) menunggu dengan mata ngantuk pun khawatir, dengan segelas teh madu hangat yang sengaja disediakan buat saya *terharu, sambil sedikit bercerita, karena sudah larut juga, bunda harus segera istirahat, dan saya pun sudah sangat tidak nyaman dengan kondisi yang kotor itu >,<. Usai bersih - bersih total, saya pun segera melabuhkan badan di  tempat tidur dan. Zzzz mata pun terpejam.


Beberapa penampakan perjalanan yang melahirkan cerita panjang ini .. hehehehe
penampakan gn. Tampomas Sumedang

Jumat, 01 November 2013

~suatu hari nanti~

Aku ingin menikmati hujan bersamamu, berjalan bersisian pada senja penghabisan.
Pada tiap rinainya kita melangitkan do'a, dan membumikan bahagia,
yang pada tiap gaduh tetesnya, ada aamiin yang sunyi.
Hingga mereka menyaksikan bahwa kita layak mendapatkan bahagia,
di bumi kini, dan di langit kemudian.
Suatu hari yang haru nanti, sayang.



Hujan pada langit permulaan Nopember

Rabu, 30 Oktober 2013

Menjadi baik

"surely you've heard, how people judge me so evil, im sad :("


Terkadang, kebaikan yang kita lakukan memang tak selalu bernilai baik dimata semua orang. Karena memang beberapa orang mungkin telah tertutup hatinya untuk melihat kebaikan, atau bisa karena kesombongan yang menjadikannya begitu, hingga tega mengingkari hatinya sendiri untuk menerima kebaikan yang sebenarnya mereka rasakan juga.

Tapi, fastabiqul khoirot, bukanlah untuk mengejar penilaian mereka, kita sama sekali tak membutuhkan itu, kita layak mendapatkan yang lebih baik dari itu, dari sekedar penilaian manusia.
Tugas kita adalah menjadi baik, meneruskan kebaikan, meningkatkan kebaikan, dan bertahan dalam kebaikan.

Dan tak mengapa meski diingkari, bukankah kebaikan tidak butuh pemaksaan dan rekayasa untuk diakui bahwa dia baik?
kemudian, fokuslah pada orang-orang yang mencintaimu, as ever you say, "karena posisi kita memang tak akan pernah sepi dari pembenci"
Jadi jangan sampai kebencian mereka merusak kebahagiaanmu :D


Pada senja yang hujan di ujung langit Oktober



301013

Jumat, 11 Oktober 2013

Saling


~Namun saat kau rasa pasir yang kau pijak pergi, akulah lautan memeluk pantaimu erat~ -Aku Ada- #dee
 
Terkadang, kita tak harus selalu mengerti tentang mengapa perasaan menyampaikanmu ke titik ini, meski ia bertahta di hatimu, tapi siapa sejatinya pemilik hati, pemilik kita?

Maka dengan apa aku bisa melenyapkan segala berat yang menekuk wajahmu?
Apakah perlu aku menyanyikan lagu dangdut sambil berputar pada tiang-tiang penyangga seperti artis India, atau meniru gaya shikat miring yang lebih jayus dari Danang dan Darto demi melihat sabit lagi pada wajahmu?
Entah lucu atau malah telihat gila dimatamu.. tapi bagaimana mungkin kau memintaku tetap tersenyum, sedang aku tahu alasanmu untuk itu telah sangat rapuh dan hampir runtuh?

Setiap kita, pun kamu, mungkin pernah merasa bahwa kehidupan telah begitu menelantarkanmu, hanya tersebab suatu kondisi yang tak seideal harapanmu.
Setiap ujian, setiap masalah, adalah batu loncatan yang bisa mengantarkan kita ke posisi yang lebih tinggi, seperti katamu. Ketika kita berhasil menyelesaikan satu masalah, artinya kita harus bersiap dengan datangnya masalah yang lebih besar dari sebelumnya, sejatinya, bobot masalah itu seringnya berbanding lurus dengan kekuatanmu untuk menyelesaikannya, tak pernah lebih besar. masih katamu.

Jadi, maukan kita sama-sama menguatkan keyakinan pada “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”Setelah ini, jangan pernah merasa lagi bahwa kau sendirian, ada pertolonganNya yang selalu dan begitu dekat.

Untuk hari- hari mu, ketika kau merasa sendirian, merasa semua manusia meninggalkan, kau cukup meyakini, bahwa kau adalah bagian dari banyak hal, seseorang, aku misalnya.
Untuk sebuah senyuman, aku ingin kita yang saling.

Selalu ada yang diam-diam mendo'akanmu. dalam-dalam.
Percayalah.


_____________________________________________________________________dzulhijah hari ke 6.

Sabtu, 28 September 2013

Do'a itu : S e m o g a



Ada yang menghitung usia kita, yang mangantarkan kita pada detik-detik yang semakin rapuh.
Kau tahu, bahwa hidup adalah pengulangan, sebagaimana aku, yang mengulang-ulang kebahagiaan bersamamu. seperti juga rasa terimakasihku yang berulang hanya berupa tulisan, rupanya aku masih saja belum mampu memberimu lebih, maaf.

Aku pernah mencoba merangkummu dengan tulisan, tapi hanya sepersekian detik segalamu merampas semua kata yang sempat terlintas , hari ini, aku menyadari satu hal, bahwa memang kau hanya mengizinkanku mengenal satu kata saja : b a h a g i a
sederhana, tapi cukup membahasakan segalanya, tapi begitulah kau, kesederhanaan yang tak pernah mampu ku bahasakan.

Walau begitu, kebahagiaan memiliki ujiannya sendiri, karena memang sejatinya tak ada manusia yang nihil dari kesedihan, tapi, adalah hal yang berusaha kita yakini bersama, bahwa setiap kesedihan akan membuka pintu untuk lahirnya kebahagiaan-kebahagiaan yang baru, kan?

Pada pengulangan yang kesekian ini, ada yang bertambah dan berkurang bersamaan : pengalaman dan kesempatan.
Dari pengalamanmu, aku telah berguru banyak dan mencuri pelajaran baik darinya.
Pada kesempatanmu, yang entah masa depan seperti apa yang akan menyambutmu, mungkin aku hanya mampu berusaha menjaga do'a-do'a agar tetap utuh untukmu, menitipkan segala kebaikan hati dan wujudmu pada sebaik-baik penjagaan-Nya.

Lagi, terimakasih karena telah memberi banyak hal yang kurindukan..
bahwa mengenalmu, menjadi dekat denganmu adalah satu dari sekian banyak nikmat yang (semoga) tak pernah luput ku syukuri.
tetaplah hebat, yang mampu menjadi nasehat untuk semua kebebalanku, redakan liarnya ambisiku, pemberani untuk setiap rasa takutku, juga pelengkap untuk segala keterbatasanku.
untukmu, aku selalu mampu lagi menjadi penyemoga, semoga kata-kataku tak berhenti hanya sekadar kata, semoga ia menjadi nyata senyata-nyatanya kebahagiaan yang selalu kau harapkan dan ku aamiinkan dalam diam.

Miladuka sa'id. . .
Selamat mengulang Septembermu, selamat memanen do'a-do'a dari benih kebaikan yang kau semai pada banyak wajah yang tersenyum karenamu.
Semoga Allah menjaga kebaikan dunia dan akhiratmu..
Semoga berberkah panjang usia kebahagiaanmu, bahagia sampai Surga ^_^

Jumat, 20 September 2013

Ciremai (3078mdpl) ~ catatan (sepanjang) perjalanan~

~Dialah yang menjadikan bumi ini untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya...... ~ (QS:67:15)

Dari sinilah saya memulai penjelajahan, berjalan menuju ketinggian, melihat dunia dari dimensi yang lebih tinggi.

Ciremai, mendengar nama itu selalu saja membuat saya berandai mendapat kesempatan liburan panjang, dan menapakan kaki di tanah tertinggi Jawa Barat itu, dan atas takdir Allah, Alhamdulillah, kesempatan itu datang tahun ini, dengan segala kemudahan yang menyertainya :D

Gunung ciremai, termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, yang memiliki luas sekitar 15.000 ha, gunung dengan ketinggian 3.078Mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, lokasinya terbagi kedalam dua wilayah Kabupaten, sebelah Barat termasuk Kab. Majalengka, dan Sebelah timur termasuk Kab. Kuningan.(berbagai sumber)

Dingin mulai menyapa kami saat memasuki kota Kuningan, tepatnya daerah mana, saya juga kurang hafal, ini kali pertama saya berkunjung kesini, setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, berangkat dari Sukabumi, kemudian janji temu dengan 4 sahabat perjalanan saya yang lain di terminal cicaheum-Bandung, lalu bersama-sama meluncur ke kota ini, kota yang menjanjikan pengalaman baru bagi kami. Sekitar pukul 20.00 kami sampai di mesjid Syiarul Islam, mesjid yang megah berdiri kokoh di pusat kota, beberapa sahabat nampak sudah menunggu lama disana.

Pagi datang diiringi dengan kegembiraan, kami akan berpetualang hari ini, setelah menghabiskan sisa malam untuk memaksimalkan persiapan.
angdes yang akan mengantar kami ke resort


Sabtu, 14 September 2013

mau Do'a apa?


Ada pertanyaan dari beberapa rekan kerja, guru lebih tepatnya. yang Alhamdulillah tahun ini mendapat panggilan Allah untuk ziarah ke tanah Haram, menunaikan rukun Islam yang ke-5 #bahagia

Pertanyaan yang nyaris sama, hampir setiap orang yang akan berangkat kesana, "mau nitip do'a apa zi?"
"tentunya yang baik-baik tadz, aku bantu aamiinkan dari sini" ku jawab saja begitu.
Karena tentu tidak akan disebut do'a kalo yang buruk-buruk, kan?
"salah satunya?" beliau bertanya lagi,
"Do'akan saja semoga semua do'a-do'a yang ku panjatkan, menjadi do'a yang cepat mencapai Arasy-Nya, dan terkabulkan"
Beliau nampak bingung juga dengan permintaan saya.
"tentu yang nitip do'a ke ustadz bukan cuma aku kan, jadi aku minta yang simple aja " #padahal penuh modus
"Curang kamu" beliau tersenyum

Kupikir sih, itu bukan kecurangan, itu strategi, toh, tak merugikan yang lain :D #ego
Karena diantara do'a-do'a nya, ada do'aku juga, tentu aku berdo'a untuk terkabulnya semua yang menjadi do'a nya, (puyeng kan?, aku gak) #mutualisme

dan jadilah kami saudara muslim yang saling mendo'akan dan mengaamiinkan ^_^

Dialog maya senja kemarin.. 130913

Jumat, 13 September 2013



"kau tak perlu menjadi gila, untuk tahu bagaimana rasanya ketika orang yang (mengaku) menyayangimu pergi atau membiarkanmu, kau hanya perlu menunggu"

" tapi dia bilang tidak akan meninggalkanku"

"kau tahu apa artinya itu?

"ya, dalam waktu yang sama ketika dia mengatakan itu, aku akan sendiri"

Kamis, 12 September 2013

Rumput senyummu



Lays rasa rumput laut, selaut rumput-rumput senyummu
Aku membungkusnya rapi, dalam hati.

Boleh ku minta benih-benih rumputmu? atau ku curi saja seizinmu, bagaimana?
Biar saat gersang menculikmu dariku, akan ku semai lagi benihnya hingga tumbuh rumput-rumput baru, yang meneduhkan lagi.

Seperti hujan, aku ingin jadi perindu yang tenang..
jangan jauh-jauh dariku.





________________________________________________________________________120913,

Selasa, 10 September 2013

pentul korek


Ada masanya ketika kau merasa telah berupaya cukup keras dalam hal membahagiakan orang yang kau sayangi, padahal nyatanya keberadaanmu dan semua hal yang telah kau lakukan hanya ibarat cahaya pentul korek di siang bolong, tak pernah berperan penting.



_________________________________________________________________ jiw, 10_09

Sabtu, 13 Juli 2013

Serial Cinta Ramadhan ~memaafkan untuk cinta~

"Menaruh atau memelihara dendam hanya akan merampas ketenangan hidup."
 Memaafkan, tak hanya memuliakan si pemaaf, rupanya memaafkan juga mampu mengurangi kegalauan, kecemasan dan keresahan, begitu kata guru. Juga akan memberikan ketenangan dalam pikiran kita, tak hanya itu, memaafkan juga ternyata sangat berpengaruh terhadap kesehatan, dari perasaan tenang tersebab memaafkan, kita juga bisa merasakan nikmatnya istirahat (tidur) yang berkualitas juga kestabilan tekanan darah.
Dan yang terpenting, apabila kita mampu dan siap memaafkan orang lain, itu bukan berarti kita telah menghinakan diri, tetapi sebaliknya, Allah akan menambahkan kemuliaan baginya, seperti yang telah diriwayatkan oleh Muslim dalam sebuah hadist  "Dan tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan." (HR Muslim)

Lalu apa hubungannya cinta dengan memaafkan?
Allah telah menitipkan cinta pada jiwa setiap hamba, dan tugas kita adalah menjaga cinta Nya. Karena pada akhirnya semua pekerjaan cinta yang kita lakukan adalah pengejawantahan dari kecintaan kita terhadap-Nya. dan untuk menunaikan 'pekerjaan cinta' tersebut, baiknya kita saling memaafkan kesalahan saudara muslim kita.

Tentu kita ingat sebuah cerita, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya "sebentar lagi akan datang ahli surga", keesokan harinya Rosulullah SAW mengatakan hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut, yang ditujukan pada orang yang sama, lalu para sahabat kemudian penasaran dengan ibadah apa yang orang itu amalkan, sahabat pun berusaha mencari tahu tentang rahasianya sehingga Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Setelah diketahui, ternyata bukan karena Qiyamullail, amalan sunah, atau sedekahnya yang banyak, akan tetapi orang itu menjadi ahli surga Allah SWT yang disebut oleh Rasulullah SAW sampai berkali-kali, melainkan karena orang itu melapangkan dadanya untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara muslimnya, sehingga tidak ada rasa permusuhan didalam hatinya apalagi dendam, hatinya bersih dari rasa benci, dan cara 'memaafkan' inilah yang memasukkan orang itu kedalam surga Allah SWT. dengan jalan memaafkan inilah kita bisa saling mencintai karena Allah SWT.

Ketika mulai timbul rasa benci terhadap saudara kita, maka secepatnya kita buang jauh perasaan tersebut lebih cepat daripada tumbuhnya kebencian itu.
Apabila seseorang mencintai saudaranya karena Allah, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, jadi apabila kita belum bisa mencintai saudara seiman kita karena Allah, maka kita tidak akan pernah merasakan manisnya iman. hal ini juga sesuai dengan perkataan Rasulullah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist muttafaqun alaih :Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." 

Ketika seseorang telah memiliki tiga kriteria ini,maka Allah akan memberikan kepadanya nikmat dan manisnya iman, dan yang coba saya garisbawahi dari apa yang saya kutip diatas adalah bahwa untuk bisa menikmati manisnya iman, terlebih dahulu kita harus saling mencintai saudara-saudara muslim kita karena Allah, dan untuk bisa mencintai karena Allah, kita harus mau melapangkan hati untuk memaafkan saudara-saudara muslim kita.

Wallahu'alam...



Ramadhan, hari ke empat di kampus peradaban.
Rabb.. masukkan kami kedalam golongan hamba-Mu yang pemaaf, juga kumpulkan kami di surga-Mu kelak. Allahumma Aamiin

Rabu, 03 Juli 2013

Juni

Ini bukan tentang pengorbanan,
bukankah sejak awal memang sudah seharusnya aku tahu diri tentang segala hal bodoh ini,
aku siapa dan engkau siapa
meski mereka bilang bahwa cinta tak mengenal kasta, usia, apalagi rupa,
tapi kau memang serupa utuh purnama dan aku pungguk yang merindu.

Aku tak mengerti cinta, aku tak butuh bingung.
Tentang bagaimana seharusnya aku menjaga dan merawat rasa ini,
Tentang bagaimana sebaiknya aku berlaku,
Tentang seperti apa cara terindah untuk membahagiakanmu,
Dalam rindu yang ku sisipi istighfar di setiap jedanya,
Aku takut, takut berdosa karena merindu seseorang yang bukan hakku

Ar-Rahiim.. Bukankah tak pernah aku meminta siapa, dan ketika kau menitipkan rasa sayang dihatiku untuknya, ampuni aku yang tak mampu menolak dan meredamnya.

Aku tak berdaya memilikimu, meski tak sampai menangisi ketanpaanmu juga.
Saatnya tiba, pengakuan.
Sebagai bingkisan perpisahan, aku mencintaimu.


"Segala kebaikan takkan terhapus oleh kepahitan,
kulapangkan resah jiwa, karena ku percaya kan berujung indah"

Ampuni dosaku, ampuni dosa nya, dan jagalah dia dalam sebaik-baik penjagaan-Mu
Juli, senja ketiga 
Amsaina, kamu.


Rabu, 26 Juni 2013

Pelanggaran?



"jiw, emang lurus boleh ya? atau kita puter balik aja?"
"tapi banyak juga yang ke arah sana, lanjut aja lah!"
si merah yang di kendarai temanku itu pun melaju lurus..  tidak sampai 10 meter dari tempat dialog itu terjadi, tiba-tiba priiiiiiit suara peluit yang ditiup oleh sesosok paruh baya, yang seketika itu juga menghentikan laju kendaraan kami
"yaaaah... musibah nih" membathin
"mau kemana neng, coba tunujakan dokumen2 nya, SIM dan STNK" persis seperti ilustrasi gambar diatas. Kemudian aku menunjukan STNK, berharap si Bapak lupa dengan SIM nya *dunia khayal
"SIM nya mana?" Bapak itu kembali menanyakan
"gak ada pak!" jawabku enteng sambil nyengir kuda, kemudian aku melemparkan pandanganku ke arah teman, "bakalan apes kita" kira-kira itu yang aku tangkap dari mimik wajahnya.
setelah dialog yang bikin gondok itu, kemudian sang Bapak berlalu sambil membawa pergi STNK, dan kami masih santai duduk diatas motor, sambil cekikikan tanpa berpikir mengikuti kemana Bapak itu menuju.

Jujur sempet bingung juga gimana ngadepinnya, meskipun udah sering baca tips n trik menghadapi polisi ketika ditilang, tapi ketika musibah itu menimpa diri sendiri, tetep aja kikuk, ditambah kami tidak pengalaman dalam tilang menilang #lho

Selang beberapa menit setelah Bapak itu meninggalkan kami, dari arah yang tidak dekat, tapi tidak jauh juga *apasih si bapak itu meneriaki kami, "neng, ini siapa yang bawa motornya, ikut saya" sadar kalo teriakan itu ditujukan pada kami, kemudian kami langsung berjalan ke arah Bapak tersebut, dengan memasang tampang tanpa dosa, kami menghampiri bapak itu, ternyata ia juga ditemani kawannya.
dan terjadilah negosiasi disitu
"jadi mau gimana"?
"gimana apanya, pak?" masih dengan tampang bingung
"iya, mau disidang, atau kita bantu?"
deuuuh.. modusnya udah kebaca banget dah >_<
"emang kita ngelanggar apa sih pak?"
mungkin lama-lama dua orang polisi itu tambah kesel sama kami, dengan nada bicara yang sedikit meninggi bapak itu bilang, "kamu tau gak, kalo jalur ini satu arah, itu yang pertama, dan yang ke dua, kalian ga ada yang punya SIM"
"untuk yang ke dua, iya kami ngaku salah pak, tapi kalo yang pertama kami gak tahu, wong yang laen juga banyak kok yang kearah sana," jawabku enteng,
"dan yang ke 3, kalian ngeyel" duuh semakin panjang aja daftar pelanggaran, tapi yang ke tiga itu gak sampe keluar dari mulut Bapaknya, mungkin dalem hatinya beliau lagi gondok banget hahaha.. #ngelantur

okelah, setelah negosiasi beberapa menit, akhirnya si Bapak gak pake kode-kodean lagi deh, dari semua dialog yang akan sangat panjang jika dituliskan, kesimpulannya, "kasih gue selembar merah, urusan selesai"
meskipun gak mau ribut, tapi kalo gitu caranya si Bapak ngajak ribut, apalagi kondisi dompet lagi dalem #inicurhat
melihat gelagat kami yang tidak setuju dengan permintaanya, kemudian si Bapak mengajukan permintaan lain, kami dimintai KTP, yang kami pun tidak bisa penuhi karena kami gak bawa KTP #naaah
tampang Si Bapak tambah kesel aja kayaknya, wajah temenku udah panik super duper, aku melihatnya seperti orang yang terintimidasi. hahaha
setelah ditanyai macem-macem, dan aku juga mulai bosen deh, berdasarkan saran seseorang yang aku mintai solusi, aku meminta surat tilang dan mengikhlaskan STNK buat ditahan, tapi ternyata polisi itu gak mau cuma nilang STNK tapi sama motornya, #lho ::matabelo::
demi mendengar itu, aku minta waktu buat hubungi seseorang, lalu memintanya langsung bicara dengan polisi itu, polisi itu juga tidak keberatan rupanya, negosiasi terjadi lewat telepon, aku ga tahu apa yang dibicarakan, tapi, akhirnya polisi itu mengembalikan ponselku "udah mati neng telponya, coba di cek" katanya, memastikan tidak ada suara lagi yang muncul dari sebrang, mungkin juga untuk menghidari terdengan suara dari tempatku ke sebrang sana. setelah menutup telepon, kemudian polisi itu bilang "yaudah neng, kami bantu, yang biru aja" , dengan berat hati selembar biru tanpa amplop itu pun berpindah tangan, meski dalem hati gondok banget, ditambah sadar, bahwa aku telah punya andil membiarkan kemungkaran >_<
Awalnya ku kira itu sudah hasil negosiasi seseorang disebrang itu, tapi tak sampai 1 menit transaksi itu terjadi, ponselku bunyi lagi "udah, kasih aja STNK nya, kamu bawa pulang motornya, udah ku bilang gitu barusan"
"lho, udah ku kasih lembar biru, ku kira kamu yang bilang" tambah nyesel deh, tapi ya.. mu gimana lagi.
perbincangan di telpon selesai, kemudian polisi itu mengembalikan STNK pada kami, sambil ngasih petuah dengan penuh senyum "jangan ulangi lagi ya, setelah ini segera buat SIM"
"iya pak, kami juga pengennya cepet punya SIM, tapi susah banget, beberapa kali gak lulus-lulus" jawabku masih kesel, ku kira polisi itu gak akan menjawab lagi, masih sambil senyum-senyum polisi itu suka banget bilang "nanti saya bantu" duuuh,, tambah mangkel aja deh rasanya "iya, bisa cepet, tapi nembak" sahutku sambil berlalu, ah terserah mereka mau bilang aku menyebalkan.

Setiap hari adalah rangkaian pelajaran, dari kejadian tersebut, aku tambah yakin, bahwa kita jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun. ngerasa perjalanan yang ditempuh masih didalam kota yang sama PD aja berkendara tanpa SIM.
tapi juga, kalo emang setiap pengendara itu wajib punya SIM, kenapa proses memperolehnya tidak dipermudah aja? *triiing
etapi, siapa bilang gak dipermudah? asal ada sedikitnya 3 lembar merah, 1 jam langsung jadi.. #uups

Terimakasih untuk hari ini, paras kalian abadi dalam ingatanku, pak POLISI :D

Sampe tulisan ini dimuat, ada satu hal yang bikin nyesel, kenapa tadi gak keluarin kamera terus minta foto bareng gitu yaak.. hajuuuh  #abaikan


Rabu, 12 Juni 2013

~jalan keluar adalah berhenti berharap~


Sepucat bulan purnama
Segelap malam terkelam
Kubiarkan ku mencari
Hatimu yang tak pernah kau beri

Sedalam palung lautan
Sedalam jurang hatimu
Kau biarkan ku jatuh tanpa ujung
Lepaskan sayapku yang terpasung

Jika memang tiada harapan
Tunjukkan jalan keluar dari hatimu
Jika memang tak akan bersanding
Tunjukkan jalan keluar dari hatiku


 Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini, tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi, sudut gelap hati ini

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat, tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan

Aku pulang… tanpa dendam kuterima kekalahanku
Aku pulang… tanpa dendam kusalutkan kemenanganmu
Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita

Seperti lirik dalam salah satu lagunya juga.. "kau tetap pesona rahasia di lagu ini"





*Postingan ini tak lebih karena seharian dengerin lagunya sheila on 7, 
tapi yang dua ini nge jleb gitu.. >_<  
dalam lirik yang diposting juga sudah saya sisipi link buat download lagunya. ^_^

Selasa, 11 Juni 2013

u s a i

Masihkah kau ingat, ketika suatu malam yang masih mengurat sisa-sisa purnama
sebuah pesan kau hantar
bukan puisi pun sajak, kejujuran kau bilang.
Aku masih,
sesekali ku tengok meski dengan getar rasa yang tak lagi sama
terkadang, basah seperti menganak sungai di pipiku

Ketika itu, sebuah kekuatan yang entah berasal dari mana
berhasil meroboh pertahanan keluguan rasa
Keberanian, ku kira .
kini hilang, bahkan jejaknya
seolah aus semuanya, mungkin hingga partikel terakhir.

Dari sini kusampaikan, aku baik-baik saja
Ketika langit mengabarkan tawamu,
diwaktu yang sama ia juga memahkotaiku dengan kesedihan,
bukan, bukan karena aku tak rela kau bahagia
sayang, aku hanya menyesal karena tak utuh tahu cara membahagiakanmu
ah, aku jadi ingat bagaimana kita berebut menjadi telinga untuk sebuah kata "saling"

sekali lagi kukatakan, aku baik-baik saja,,
nyatanya masih banyak pelajaran yang belum utuh keselesaikan,
belajar  berujar ikhlas ketika segala terambil dariku,
rasa hanyalah sebuah persepsi bukan?
mungkin sama dengan banyak hal yang aku juga kau temui di dunia ini,
ia juga memiliki batas sampai waktu tertentu.
ah..sudahlah, bukankah seharusnya aku bisa melepaskan apa yang mesti dilepaskan.

Saat terbangun esok,
aku berharap telah bahagia karena bisa melupakan kesakitan darimu,
mungkin tersebab do'amu juga..
sudahlah, ini harus selesai
sudah saatnya aku sadar tentang semua hal bodoh ini,
merindukanmu begitu berat dan melelahkan,
namun aku tahu diri, ketika denganmu aku serupa ketanpaan sedangkan kau adalah ketakberhinggaan
kini kembalikan saja aku pada sunyi, tempat dimana segalaku bermula



Jumat, 07 Juni 2013

koma



Aku,
seperti koma.
Tanda baca yang selalu berada di antara,
dan hanya menjadi jeda sebelum kau bertemu titik.
Aku,
tak pernah menjadi akhir.

Selasa, 04 Juni 2013

~padam~



Ruang waktu: tertimbun lapisan kenangan.
Rinduku dipenggal waktu
Semesta seperti berkata : Aku mulai lelah menjadi kurir rasa mu
Kesunyian malam memeluk erat,
Bersama rindu-rindu yang terabaikan.
Sayang, bukankah kau yang mengajakku menyelam dalam keluguan rasa,
mengapa tak kau ajarkan juga padaku cara berenang ketika aku hendak tenggelam?
Hatiku telah sempurna kau patahkan,
Oleh kenyataan bahwa rasamu dulu, kini telah purna.


30-05-2013
Hati yang mengandung rasa, jika ia duabelas bulan,
telah keguguran di trimester pertama..







Jumat, 31 Mei 2013

Anonim

kau kemasi kasih sayangmu,
bergegas ambil langkah sendu,
yakinkah ini semua, yang harus kita rasa.
Terjaga oleh kelam dan terimbas dengan seram.

Embun mengalir pelan dari gurat kenangan kita,
Kenangan yang sengaja terlupakan dan berubah suram.
kita berpandangan begitu dingin,
Berusaha mencari sisa rindu yang terlanjur menjadi masa lalu.

Apakah kau begitu berubah oleh waktu yang berjalan?
Melupakan tetesan hujan saat kita berebut menggapai tetesannya,
Hujan yang begitu menyedihkan.

Kita hanya berusaha menyembunyikan rindu
Tapi rindu yang nantinya akan menemukan kita






*di kutip dari komen anonim di postingan lama

Selasa, 21 Mei 2013

~Sayap yang (tak) pernah patah~


Indah terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki

Dan bila itu semua
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan kita 
tetaplah menjadi bintang di langit
agar cinta kita akan abadi
biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

Sudah, terlambat sudah
Ini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini (padi-kasih tak sampai)

Berbicara tentang orang-orang patah hati, atau kasih tak sampai, atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah,atau kisah kasih Zainudin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka "majnun", lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak terbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana, hanya ada Qais yang telah "majnun" dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung : "oh burung, adakah yang mau meminjamkan sayap? Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk meraka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah, kasih selalu sampai disana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain," kata Rumi. "Sebab, tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya, sementara kita menyaksikan fakta lain. 

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki : selamanya memberi apa yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab, disini kita justeru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang terlewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan seperti itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkanharapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain tidak mencintai kita.







~serial cinta Anis Matta, 41-43~

Rabu, 27 Maret 2013

will you ?

Apakah ada bedanya ketika sendirian dengan beramai-ramai tapi diabaikan?
Apakah ada bedanya ketika berada ditempat yang baru dengan berada diantara orang yang telah saling mengenal tapi diasingkan?

Kamis, 21 Maret 2013

~main hati~


Setiap luka pasti akan sembuh,
tapi kau tak pernah tahu kapan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali menata hati yang terlanjur tersakiti, belum lagi jika harus ditambah dengan menyamarkan bekasnya.

Pernahkah kau membayangkan,
perjuangan si sakit hati dalam menyiasati luka dan kecewanya?
Bagaimana dia berjuang membuang dendam?
bekerja keras membendung benci?
Betapa lelah menyembunyikan luka?

betapa banyak rasa yang dia korbankan demi berujar ikhlas dan memberikan maaf?
mungkin tidak, 
sampai kau sendiri yang mengalaminya.
 

perlukah kau tahu,
ada hati yang sakit tapi tak pernah berhenti mendo'akanmu,
berharap kebahagiaan dengan menyaksikan kebahagiaanmu,
Untukmu do'a-do'a itu terlontar, meski kekuatanya tak pernah berhasil membuatmu merasakanya...


dan ketahuilah,
di atas semua kebahagiaan yang kau rasakan, ada do'a dari orang-orang yang menyayangimu, tanpa kau sadari keberadaanya...

Lalu, dari semua yang telah dia lakukan, tak cukupkan untuk menjelaskan, bahwa kau itu istimewa?




mengeja hujan, 21032013
Rabb, jaga hatiku T_T




Jumat, 15 Maret 2013

~menjagamu dengan do'a~


"gak ada permen gak asik, ga ada kabar dari kamu, gak aneh !!"

Dalam hidup, ketika kita memutuskan untuk mengenal orang-orang (yang tadinya asing) disekitar kita, terkadang ada beberapa orang yang akan meninggalkan kesan berbeda, ah entahlah apa namanya, orang tersebut bisa saja dengan mudahnya mendapatkan porsi lebih untuk menempati ruang pikir kita, selalu kita rindukan kabarnya, kita khawatirkan keadaanya, meski kadang, semua bentuk kepedulian itu harus di uji dengan ketidakpekaan orang tersebut. padahal kita sanggup mengkhawatirkanya dalam keadaan kita yang mengkhawatirkan sekalipun, tapi lagi-lagi kita tidak bisa memaksa orang lain untuk peka terhadap apa yang kita rasakan bukan?

tapi, seperti yang Salim A. Fillah tulis di dalam dekapan ukhuwahnya, "Kepedulian bukanlah sekadar rasa ingin tahu, kepedulian kadang tampil dalam bentuk kesadaran bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu. Maka kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, disaat yang paling tepat, dengan cara yang paling indah. Belajar mengerti dengan kelembutan nurani"

Jadi begini zi, ketika semua bentuk kepedulianmu untuknya hanya terbalas dengan diabaikan, dan berbuah rindu yang tak berkesudahan, sesungguhnya kau selalu memiliki do'a untuk tetap menjaganya, bukankah itu lebih baik?
Jadi anggap saja semua pengabaian atas pertanyaan "apa kabar" mu itu sebagai jawaban paling baik, dia tak memberi kabar, berarti dia baik-baik saja.
dengan begitu, kau tak akan kehabisan do'a untuknya, karena kekhawatiranmu juga yang terus mendorongmu untuk tak selesai mendo'akanya, bukan begitu?
semoga.

~Jadikan robitoh pengikatnya, jadikan do'a ekspresi rindu~*

Senja menua, 020313
 kepadanya yang telah menyemai rindu




*senandung ukhuwah,Sigma

Rabu, 13 Maret 2013

Kau

Pukul lima lewat sembilan belas menit,
Jingga kemerahan mulai menabur pesona dilangit barat,
masih lewat jendela yang sama sejak hampir setahun ini,
memandang kosong pada semua hal yang tertangkap netra,
ketiadaan.
Aku kembali menyusun puzzle kenangan,
berusaha, memaksa menghadirkan hal yang sejatinya telah pergi, kau.




Senja, 13032013
Dari pojok ruang, tempat dimana segalamu bisa tiba-tiba menawanku lewat ingatan,
tanpa aba-aba.

Jumat, 15 Februari 2013

~Tidak apa-apa~

"Melepas itu, bukan berarti menyerah, tapi lebih ke memahami bahwa ada hal-hal yang gak harus dipaksakan" ~Chinmi-Kungfu Boy~

 "Sudah, tak apa, kau akan mendapatkan yang lebih baik dari yang hilang sekarang"

Iya, kita memang bisa saja mengingkari kesedihan, dengan berkata semua akan baik-baik saja, atau pura-pura tenang dengan sebuah kehilangan karena berharap akan diganti dengan yang lebih baik.
Tapi, di waktu yang bersamaan, kita juga tidak bisa terus pura-pura, sejatinya seorang manusia, yang dibekali rasa takut,cemas,khawatir, yah.. dan yang paling berperan dalam hal ini adalah porsi dan pengendalian dari semua bentuk ketakutan tersebut, seberapa mampu kita mengatur porsinya, dan seberapa kuat kita mengendalikanya, dan semua akan kembali lagi ke keyakinan kita tentang "sesuatu yang hilang pasti akan diganti dengan yang lebih baik"

Rabu, 13 Februari 2013

~Hujan~

 


Aku adalah keindahan yang dipersiapkan langit penyempurna dunia
Menjadi butir paling indah yang dipersembahkan oleh awan yang berarak
Menjadi tetes paling berharga bagi semesta kehidupan
Untuk benar-benar pasrah dialirkan diantara pasir
meraba bebatuan,
menyapa dedaunan,
menyentuh akar-akar pohon dan melarungkan aku dalam gelora anak sungai yang membawaku ke pangkuan lautan luas...

Meski pada kenyataannya tak ada yang benar-benar mengerti tentang lukaku, deritaku..
Betapa kuat aku terhempas di tanah
Tersesat diantara bebatuan
Tercabik oleh dedaunan,
dan tenggelam dalam tawa alam raya

Rabu, 06 Februari 2013

~kita~

Senja yang hujan (lagi),
seperti biasa, kehadiranya berarti membawa semua kenangan tentangmu,
tentang rindu yang entah sudah berapa mdpl jika ia berujud,
tentang mimpi, yang kemudian hilang seiring matahari tenggelam,
tentang harapan yang tumbang perlahan,
tentang luka yang tak bisa ku ukur lagi diameternya,
dan..
hari ini, semua tentangmu tak begitu menyakitkan lagi,
luka pun perlahan sembuh, meski prosesnya kadang memaksaku menahan perih,
hari ini, aku (masih) baik-baik saja,
menyadari betapa hati, memang tak pernah bisa kita terka kemana arahnya,

senja yang hujan ini, aku mengingatmu dengan senyum,
tak lagi berairmata,
kita, masih bisa berteman baik (lagi) kan?
hangat seperti dulu,
karena menurutku, benteng perbedaan itu, takkan runtuh hanya dengan saling mengabaikan,
semoga kau baik-baik saja.



Hujan diujung senja, 06-02-2013
aku, yang ingin kembali menjadi sahabatmu



Jumat, 01 Februari 2013

~Indah~


Seperti ingin memutar kembali jarum jam, mengembalikannya pada seminggu yang lalu, aku rela jika harus mengulang untuk menunggu selama 2 jam itu..
Hari tentang pertemuan pertama kita,
petualangan kecil kita,
kebersamaan, keceriaan, kebahagiaan, berbagi, kehangatan dan ah..
Ini, entahlah apa namanya, sesuatu yang tak pernah berani aku bayangkan sebelumnya, ketika waktu mempertemukan rindu, ternyata jarak seketika terlupakan, sejauh apapun itu, toh kita masih berada di bawah langit yang sama..
Hari itu, aku menyebutnya indah...


kawan, tidak semua yang indah itu hanya khayal saja,
sama seperti ketika aku mengenal kalian..
terimakasih untuk keceriaanya,
sampai ketemu lagi ^_^




Lembang, 25012013
Subang, 01022013

Selasa, 22 Januari 2013

Monolog ~Dia yang (pernah)~

Bagaimanapun, menanam benih itu sangat mudah, tapi kita tidak tahu apakah benih yang kita semai akan kita tuai juga hasilnya, dan ketika kita ingin mencabutnya saat ia sudah tumbuh dan mengakar, butuh usaha yang tidak mudah lagi. Analogikan saja benih itu adalah harapan.

~jangan pernah memberi harapan pada seseorang yang kelak akan kau hempas~

ah, tapi masa depan siapa yang tahu..
begitu banyak ketetapan-ketetapan yang tak mampu kita kendalikan sendiri..
berhusnudzon saja, bahwa dia yang (pernah) memberimu harapan, sesungguhnya tak pernah berniat menghempasmu,
bahwa dia yang (pernah)menyayangimu, sesungguhnya tak akan pernah tega menyakitimu...
bahwa dia yang (pernah) berjanji untuk selalu bersamamu, sesungguhnya tak pernah sengaja untuk meninggalkanmu,
bahwa dia yang (pernah) berkata untuk selalu menjagamu, sesungguhnya tak pernah ingin mengabaikanmu,
bahwa dia yang (pernah) menjadi penghapus air matamu, sesungguhnya tak akan pernah rela menyakiti dirinya sendiri dengan membuatmu dan membiarkanmu menangis..

demi sebuah ketetapan yang tak mampu kau tolak,
maka, maafkanlah..
maka, lapangkanlah..



Siang mentari acuh, 22-01-2013
Dan, pegangi aku ya Allah..
saat langkahku tak mampu lagi berdiri tegak,
maka, jangan tinggalkan aku ya Allah..
saat mata ini tak sanggup lagi menahan kubikan bendungan tangis..

Rabu, 16 Januari 2013

~Terimakasih~

Aku tidak tahu ujian seperti apa lagi yang sedang Tuhan siapkan untukku, tidak ada yang mampu meramalkan masa depanku bukan?
Tapi mungkin, lewat semua ini, Tuhan juga sedang melatih hatiku untuk lebih kuat lagi.
Kebaikanmu, terlanjur membuatku berhutang banyak kebahagiaan padamu,
dengan do'a, mungkin hanya sekedar itu aku baru mampu membayar, ku rasa itu pun takkan pernah cukup untuk melunasinya..

Sabtu, 12 Januari 2013

~pada senja~

Pada senja...
aku rindu cerita jingga kemerahanmu..
aku rindu mengikuti setiap jejak kisahmu..
aku rindu petualangan kecil kita..
aku rindu, itu saja..
sederhana, tapi ini rumit..









Senja pojokan ruang, 12-01-2013