Jumat, 31 Mei 2013

Anonim

kau kemasi kasih sayangmu,
bergegas ambil langkah sendu,
yakinkah ini semua, yang harus kita rasa.
Terjaga oleh kelam dan terimbas dengan seram.

Embun mengalir pelan dari gurat kenangan kita,
Kenangan yang sengaja terlupakan dan berubah suram.
kita berpandangan begitu dingin,
Berusaha mencari sisa rindu yang terlanjur menjadi masa lalu.

Apakah kau begitu berubah oleh waktu yang berjalan?
Melupakan tetesan hujan saat kita berebut menggapai tetesannya,
Hujan yang begitu menyedihkan.

Kita hanya berusaha menyembunyikan rindu
Tapi rindu yang nantinya akan menemukan kita






*di kutip dari komen anonim di postingan lama

Selasa, 21 Mei 2013

~Sayap yang (tak) pernah patah~


Indah terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki

Dan bila itu semua
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan kita 
tetaplah menjadi bintang di langit
agar cinta kita akan abadi
biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

Sudah, terlambat sudah
Ini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini (padi-kasih tak sampai)

Berbicara tentang orang-orang patah hati, atau kasih tak sampai, atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah,atau kisah kasih Zainudin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka "majnun", lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak terbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana, hanya ada Qais yang telah "majnun" dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung : "oh burung, adakah yang mau meminjamkan sayap? Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk meraka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah, kasih selalu sampai disana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain," kata Rumi. "Sebab, tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya, sementara kita menyaksikan fakta lain. 

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki : selamanya memberi apa yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab, disini kita justeru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang terlewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan seperti itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkanharapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain tidak mencintai kita.







~serial cinta Anis Matta, 41-43~