Rabu, 26 Juni 2013

Pelanggaran?



"jiw, emang lurus boleh ya? atau kita puter balik aja?"
"tapi banyak juga yang ke arah sana, lanjut aja lah!"
si merah yang di kendarai temanku itu pun melaju lurus..  tidak sampai 10 meter dari tempat dialog itu terjadi, tiba-tiba priiiiiiit suara peluit yang ditiup oleh sesosok paruh baya, yang seketika itu juga menghentikan laju kendaraan kami
"yaaaah... musibah nih" membathin
"mau kemana neng, coba tunujakan dokumen2 nya, SIM dan STNK" persis seperti ilustrasi gambar diatas. Kemudian aku menunjukan STNK, berharap si Bapak lupa dengan SIM nya *dunia khayal
"SIM nya mana?" Bapak itu kembali menanyakan
"gak ada pak!" jawabku enteng sambil nyengir kuda, kemudian aku melemparkan pandanganku ke arah teman, "bakalan apes kita" kira-kira itu yang aku tangkap dari mimik wajahnya.
setelah dialog yang bikin gondok itu, kemudian sang Bapak berlalu sambil membawa pergi STNK, dan kami masih santai duduk diatas motor, sambil cekikikan tanpa berpikir mengikuti kemana Bapak itu menuju.

Jujur sempet bingung juga gimana ngadepinnya, meskipun udah sering baca tips n trik menghadapi polisi ketika ditilang, tapi ketika musibah itu menimpa diri sendiri, tetep aja kikuk, ditambah kami tidak pengalaman dalam tilang menilang #lho

Selang beberapa menit setelah Bapak itu meninggalkan kami, dari arah yang tidak dekat, tapi tidak jauh juga *apasih si bapak itu meneriaki kami, "neng, ini siapa yang bawa motornya, ikut saya" sadar kalo teriakan itu ditujukan pada kami, kemudian kami langsung berjalan ke arah Bapak tersebut, dengan memasang tampang tanpa dosa, kami menghampiri bapak itu, ternyata ia juga ditemani kawannya.
dan terjadilah negosiasi disitu
"jadi mau gimana"?
"gimana apanya, pak?" masih dengan tampang bingung
"iya, mau disidang, atau kita bantu?"
deuuuh.. modusnya udah kebaca banget dah >_<
"emang kita ngelanggar apa sih pak?"
mungkin lama-lama dua orang polisi itu tambah kesel sama kami, dengan nada bicara yang sedikit meninggi bapak itu bilang, "kamu tau gak, kalo jalur ini satu arah, itu yang pertama, dan yang ke dua, kalian ga ada yang punya SIM"
"untuk yang ke dua, iya kami ngaku salah pak, tapi kalo yang pertama kami gak tahu, wong yang laen juga banyak kok yang kearah sana," jawabku enteng,
"dan yang ke 3, kalian ngeyel" duuh semakin panjang aja daftar pelanggaran, tapi yang ke tiga itu gak sampe keluar dari mulut Bapaknya, mungkin dalem hatinya beliau lagi gondok banget hahaha.. #ngelantur

okelah, setelah negosiasi beberapa menit, akhirnya si Bapak gak pake kode-kodean lagi deh, dari semua dialog yang akan sangat panjang jika dituliskan, kesimpulannya, "kasih gue selembar merah, urusan selesai"
meskipun gak mau ribut, tapi kalo gitu caranya si Bapak ngajak ribut, apalagi kondisi dompet lagi dalem #inicurhat
melihat gelagat kami yang tidak setuju dengan permintaanya, kemudian si Bapak mengajukan permintaan lain, kami dimintai KTP, yang kami pun tidak bisa penuhi karena kami gak bawa KTP #naaah
tampang Si Bapak tambah kesel aja kayaknya, wajah temenku udah panik super duper, aku melihatnya seperti orang yang terintimidasi. hahaha
setelah ditanyai macem-macem, dan aku juga mulai bosen deh, berdasarkan saran seseorang yang aku mintai solusi, aku meminta surat tilang dan mengikhlaskan STNK buat ditahan, tapi ternyata polisi itu gak mau cuma nilang STNK tapi sama motornya, #lho ::matabelo::
demi mendengar itu, aku minta waktu buat hubungi seseorang, lalu memintanya langsung bicara dengan polisi itu, polisi itu juga tidak keberatan rupanya, negosiasi terjadi lewat telepon, aku ga tahu apa yang dibicarakan, tapi, akhirnya polisi itu mengembalikan ponselku "udah mati neng telponya, coba di cek" katanya, memastikan tidak ada suara lagi yang muncul dari sebrang, mungkin juga untuk menghidari terdengan suara dari tempatku ke sebrang sana. setelah menutup telepon, kemudian polisi itu bilang "yaudah neng, kami bantu, yang biru aja" , dengan berat hati selembar biru tanpa amplop itu pun berpindah tangan, meski dalem hati gondok banget, ditambah sadar, bahwa aku telah punya andil membiarkan kemungkaran >_<
Awalnya ku kira itu sudah hasil negosiasi seseorang disebrang itu, tapi tak sampai 1 menit transaksi itu terjadi, ponselku bunyi lagi "udah, kasih aja STNK nya, kamu bawa pulang motornya, udah ku bilang gitu barusan"
"lho, udah ku kasih lembar biru, ku kira kamu yang bilang" tambah nyesel deh, tapi ya.. mu gimana lagi.
perbincangan di telpon selesai, kemudian polisi itu mengembalikan STNK pada kami, sambil ngasih petuah dengan penuh senyum "jangan ulangi lagi ya, setelah ini segera buat SIM"
"iya pak, kami juga pengennya cepet punya SIM, tapi susah banget, beberapa kali gak lulus-lulus" jawabku masih kesel, ku kira polisi itu gak akan menjawab lagi, masih sambil senyum-senyum polisi itu suka banget bilang "nanti saya bantu" duuuh,, tambah mangkel aja deh rasanya "iya, bisa cepet, tapi nembak" sahutku sambil berlalu, ah terserah mereka mau bilang aku menyebalkan.

Setiap hari adalah rangkaian pelajaran, dari kejadian tersebut, aku tambah yakin, bahwa kita jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun. ngerasa perjalanan yang ditempuh masih didalam kota yang sama PD aja berkendara tanpa SIM.
tapi juga, kalo emang setiap pengendara itu wajib punya SIM, kenapa proses memperolehnya tidak dipermudah aja? *triiing
etapi, siapa bilang gak dipermudah? asal ada sedikitnya 3 lembar merah, 1 jam langsung jadi.. #uups

Terimakasih untuk hari ini, paras kalian abadi dalam ingatanku, pak POLISI :D

Sampe tulisan ini dimuat, ada satu hal yang bikin nyesel, kenapa tadi gak keluarin kamera terus minta foto bareng gitu yaak.. hajuuuh  #abaikan


Rabu, 12 Juni 2013

~jalan keluar adalah berhenti berharap~


Sepucat bulan purnama
Segelap malam terkelam
Kubiarkan ku mencari
Hatimu yang tak pernah kau beri

Sedalam palung lautan
Sedalam jurang hatimu
Kau biarkan ku jatuh tanpa ujung
Lepaskan sayapku yang terpasung

Jika memang tiada harapan
Tunjukkan jalan keluar dari hatimu
Jika memang tak akan bersanding
Tunjukkan jalan keluar dari hatiku


 Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini, tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi, sudut gelap hati ini

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat, tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan

Aku pulang… tanpa dendam kuterima kekalahanku
Aku pulang… tanpa dendam kusalutkan kemenanganmu
Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita

Seperti lirik dalam salah satu lagunya juga.. "kau tetap pesona rahasia di lagu ini"





*Postingan ini tak lebih karena seharian dengerin lagunya sheila on 7, 
tapi yang dua ini nge jleb gitu.. >_<  
dalam lirik yang diposting juga sudah saya sisipi link buat download lagunya. ^_^

Selasa, 11 Juni 2013

u s a i

Masihkah kau ingat, ketika suatu malam yang masih mengurat sisa-sisa purnama
sebuah pesan kau hantar
bukan puisi pun sajak, kejujuran kau bilang.
Aku masih,
sesekali ku tengok meski dengan getar rasa yang tak lagi sama
terkadang, basah seperti menganak sungai di pipiku

Ketika itu, sebuah kekuatan yang entah berasal dari mana
berhasil meroboh pertahanan keluguan rasa
Keberanian, ku kira .
kini hilang, bahkan jejaknya
seolah aus semuanya, mungkin hingga partikel terakhir.

Dari sini kusampaikan, aku baik-baik saja
Ketika langit mengabarkan tawamu,
diwaktu yang sama ia juga memahkotaiku dengan kesedihan,
bukan, bukan karena aku tak rela kau bahagia
sayang, aku hanya menyesal karena tak utuh tahu cara membahagiakanmu
ah, aku jadi ingat bagaimana kita berebut menjadi telinga untuk sebuah kata "saling"

sekali lagi kukatakan, aku baik-baik saja,,
nyatanya masih banyak pelajaran yang belum utuh keselesaikan,
belajar  berujar ikhlas ketika segala terambil dariku,
rasa hanyalah sebuah persepsi bukan?
mungkin sama dengan banyak hal yang aku juga kau temui di dunia ini,
ia juga memiliki batas sampai waktu tertentu.
ah..sudahlah, bukankah seharusnya aku bisa melepaskan apa yang mesti dilepaskan.

Saat terbangun esok,
aku berharap telah bahagia karena bisa melupakan kesakitan darimu,
mungkin tersebab do'amu juga..
sudahlah, ini harus selesai
sudah saatnya aku sadar tentang semua hal bodoh ini,
merindukanmu begitu berat dan melelahkan,
namun aku tahu diri, ketika denganmu aku serupa ketanpaan sedangkan kau adalah ketakberhinggaan
kini kembalikan saja aku pada sunyi, tempat dimana segalaku bermula



Jumat, 07 Juni 2013

koma



Aku,
seperti koma.
Tanda baca yang selalu berada di antara,
dan hanya menjadi jeda sebelum kau bertemu titik.
Aku,
tak pernah menjadi akhir.

Selasa, 04 Juni 2013

~padam~



Ruang waktu: tertimbun lapisan kenangan.
Rinduku dipenggal waktu
Semesta seperti berkata : Aku mulai lelah menjadi kurir rasa mu
Kesunyian malam memeluk erat,
Bersama rindu-rindu yang terabaikan.
Sayang, bukankah kau yang mengajakku menyelam dalam keluguan rasa,
mengapa tak kau ajarkan juga padaku cara berenang ketika aku hendak tenggelam?
Hatiku telah sempurna kau patahkan,
Oleh kenyataan bahwa rasamu dulu, kini telah purna.


30-05-2013
Hati yang mengandung rasa, jika ia duabelas bulan,
telah keguguran di trimester pertama..