Sabtu, 13 Juli 2013

Serial Cinta Ramadhan ~memaafkan untuk cinta~

"Menaruh atau memelihara dendam hanya akan merampas ketenangan hidup."
 Memaafkan, tak hanya memuliakan si pemaaf, rupanya memaafkan juga mampu mengurangi kegalauan, kecemasan dan keresahan, begitu kata guru. Juga akan memberikan ketenangan dalam pikiran kita, tak hanya itu, memaafkan juga ternyata sangat berpengaruh terhadap kesehatan, dari perasaan tenang tersebab memaafkan, kita juga bisa merasakan nikmatnya istirahat (tidur) yang berkualitas juga kestabilan tekanan darah.
Dan yang terpenting, apabila kita mampu dan siap memaafkan orang lain, itu bukan berarti kita telah menghinakan diri, tetapi sebaliknya, Allah akan menambahkan kemuliaan baginya, seperti yang telah diriwayatkan oleh Muslim dalam sebuah hadist  "Dan tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan." (HR Muslim)

Lalu apa hubungannya cinta dengan memaafkan?
Allah telah menitipkan cinta pada jiwa setiap hamba, dan tugas kita adalah menjaga cinta Nya. Karena pada akhirnya semua pekerjaan cinta yang kita lakukan adalah pengejawantahan dari kecintaan kita terhadap-Nya. dan untuk menunaikan 'pekerjaan cinta' tersebut, baiknya kita saling memaafkan kesalahan saudara muslim kita.

Tentu kita ingat sebuah cerita, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya "sebentar lagi akan datang ahli surga", keesokan harinya Rosulullah SAW mengatakan hal yang sama sampai tiga hari berturut-turut, yang ditujukan pada orang yang sama, lalu para sahabat kemudian penasaran dengan ibadah apa yang orang itu amalkan, sahabat pun berusaha mencari tahu tentang rahasianya sehingga Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Setelah diketahui, ternyata bukan karena Qiyamullail, amalan sunah, atau sedekahnya yang banyak, akan tetapi orang itu menjadi ahli surga Allah SWT yang disebut oleh Rasulullah SAW sampai berkali-kali, melainkan karena orang itu melapangkan dadanya untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara muslimnya, sehingga tidak ada rasa permusuhan didalam hatinya apalagi dendam, hatinya bersih dari rasa benci, dan cara 'memaafkan' inilah yang memasukkan orang itu kedalam surga Allah SWT. dengan jalan memaafkan inilah kita bisa saling mencintai karena Allah SWT.

Ketika mulai timbul rasa benci terhadap saudara kita, maka secepatnya kita buang jauh perasaan tersebut lebih cepat daripada tumbuhnya kebencian itu.
Apabila seseorang mencintai saudaranya karena Allah, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, jadi apabila kita belum bisa mencintai saudara seiman kita karena Allah, maka kita tidak akan pernah merasakan manisnya iman. hal ini juga sesuai dengan perkataan Rasulullah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist muttafaqun alaih :Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." 

Ketika seseorang telah memiliki tiga kriteria ini,maka Allah akan memberikan kepadanya nikmat dan manisnya iman, dan yang coba saya garisbawahi dari apa yang saya kutip diatas adalah bahwa untuk bisa menikmati manisnya iman, terlebih dahulu kita harus saling mencintai saudara-saudara muslim kita karena Allah, dan untuk bisa mencintai karena Allah, kita harus mau melapangkan hati untuk memaafkan saudara-saudara muslim kita.

Wallahu'alam...



Ramadhan, hari ke empat di kampus peradaban.
Rabb.. masukkan kami kedalam golongan hamba-Mu yang pemaaf, juga kumpulkan kami di surga-Mu kelak. Allahumma Aamiin

Rabu, 03 Juli 2013

Juni

Ini bukan tentang pengorbanan,
bukankah sejak awal memang sudah seharusnya aku tahu diri tentang segala hal bodoh ini,
aku siapa dan engkau siapa
meski mereka bilang bahwa cinta tak mengenal kasta, usia, apalagi rupa,
tapi kau memang serupa utuh purnama dan aku pungguk yang merindu.

Aku tak mengerti cinta, aku tak butuh bingung.
Tentang bagaimana seharusnya aku menjaga dan merawat rasa ini,
Tentang bagaimana sebaiknya aku berlaku,
Tentang seperti apa cara terindah untuk membahagiakanmu,
Dalam rindu yang ku sisipi istighfar di setiap jedanya,
Aku takut, takut berdosa karena merindu seseorang yang bukan hakku

Ar-Rahiim.. Bukankah tak pernah aku meminta siapa, dan ketika kau menitipkan rasa sayang dihatiku untuknya, ampuni aku yang tak mampu menolak dan meredamnya.

Aku tak berdaya memilikimu, meski tak sampai menangisi ketanpaanmu juga.
Saatnya tiba, pengakuan.
Sebagai bingkisan perpisahan, aku mencintaimu.


"Segala kebaikan takkan terhapus oleh kepahitan,
kulapangkan resah jiwa, karena ku percaya kan berujung indah"

Ampuni dosaku, ampuni dosa nya, dan jagalah dia dalam sebaik-baik penjagaan-Mu
Juli, senja ketiga 
Amsaina, kamu.