Senin, 18 November 2013

Gn. Canggah (1.600mdpl) ~sekian, dan terimakasih~


Penanda waktu di komputer menunjukan pukul 20:40 wib, tiba-tiba "rembulan dilangit hatiku" terdengar dari ponselku, panggilan masuk dari Bang Kur, awalnya saya pikir mungkin ada perlu terkait pekerjaan saya dengan beliau yang memang satu divisi, tapi ternyata dari ujung telepon saya mendengar beliau mengajak saya untuk mendampingi murid yang tergabung dalam organisasi pegiat alam di sekolah yang bernaung pada lembaga tempat saya bekerja, sempet bingung juga, kalau di tolak, ini kesempatan, kapan lagi saya bisa hiking di sela-sela pekerjaan yang lumayan banyak mencuri waktu belakangan ini, dan kalaupun di terima, saya tidak ada persiapan apa-apa, khususnya logistik, karena tidak mungkin saya keluar malam itu juga mencari apa-apa yang belum sempat saya siapkan, dan sebenarnya, hari ahad itu, saya banyak agenda juga, Undangan, kajian, sampai acara masak bareng ^_^.

Tapi, karena informasi yang saya dapat dari Bang kur, bahwa anak-anak tidak ada pendamping perempuan, juga waktu perjalanan yang relatif sebentar (katanya) "berangkat jam 5 shubuh, jam 5 sore sudah pulang ke asrama" mempertimbangkan itu, akhirnya saya putuskan untuk ikut, dengan persiapan seadanya.

Pukul 4.30, dengan mata yang sepertinya masih kurang ikhlas dipaksa bangun yang memang baru tidur 3 jam saja, saya siap-siap, packing dadakan, mandi kemudian meluncur menemui anak-anak di halaman asrama yang ternyata belum ada siapa-siapa.
Setelah briefing beberapa menit dan mendapat beberapa pengarahan dari pembina PA, pukul 06.00 kami, 16 orang saat itu termasuk saya, satu per satu menaiki truck merah saga yang akan membawa kami ke lokasi titik awal pendakian.

Pukul 07.00, kami start pendakian, melewati beberapa rumah penduduk, kemudian bertemu petakan petakan sawah, karena di daerah dan memang bersebelahan  dengan lokasi curug cileat, awalnya saya pikir Canggah ini trek nya tidak akan jauh beda dengan perjalanan menuju cileat, ya, setengah jam pertama memang datar-datar saja, hanya sawah. Setelah itu, jalan mulai menanjak nyaris vertikal, kami masih seneng-senang aja menikmati perjalanan, tapi setelah beberapa jam jalan yang di tempuh terus menanjak saya sendiri mulai penasaran sejauh apa sih ini, tapi karena syarat dari pembina nya itu dilarang menanyakan "berapa lama lagi" jadi yaa, di tahan aja rasa penasarannya.
Setelah sekitar 2 jam perjalanan, salah satu peserta collapse, meskipun sempat tapping sekitar 30 menit, tapi akhirnya terpaksa untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan memutuskan turun, lebih bikin khawatir lagi, saya bingung bagaimana dia turunnya, karena untuk sampai di lokasi saat itu, trek benar2 vertikal, bahkan kami menggunakan bantuan webbing dan carnmentel untuk memanjat, saya pikir turunnya pasti lebih repot, setelah diskusi, akhirnya pembina memutuskan peserta turun didampingi pendamping ikhwan, sedang saya masih harus mendampingi peserta yang lain. usai melepas kepulangan Savana, saya dan beberapa peserta melanjutkan perjalanan lagi, 3 jam perjalanan, tanpa tahu kapan akan bertemu puncak.
Banyaknya peserta, dengan kondisi jalan yang memang benar-benar setapak, kanan tebing, kiri jurang, membuat kami agak kesulitan berjalan cepat, hari sudah mulai terik, matahari pun sudah beranjak tepat diatas kepala kami, sedang perjalanan belum sampai juga setengahnya, hampir satu jam kami mengantri untuk memanjat tebing, dibantu webbing dan carnmantel  satu per satu peserta melewati jalur, kami yang dibelakang bahkan sempat menikmati makan siang, karena memang jeda saat mengantri itulah yang kami jadikan untuk waktu istirahat, meski awalnya tidak menyangka akan selama itu.
Lepas 1 jam itu, akhirnya semua peserta juga pembimbing berhasil memanjat tebing meski dengan susah payah (ditambah peserta akhwat yang pake rok), perjalanan di depan masih terlihat sangat menanjak, saat itu sudah tiba waktu dzuhur sebenarnya, tapi karena tidak ada tempat yang mungkin untuk melaksanakan sholat, salah satu pembina menyarankan agar kami sholat apabila sudah sampai di pertigaan antara jalur ke puncak dan jalur turun.
Matahari mulai condong ke barat, peserta termasuk saya sendiri mulai penasaran, sejauh apalagi sih perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai di puncak. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul setengah 3, ketika kami tiba di pertigaan sireum beureum, tidak ada pos, tidak ada shelter, hanya berupa tanah yang lumayan lapang mungkin 3x3m, bisa juga kurang dari itu, ditandai dengan pohon yang entah apa, cukup rindang untuk sekadar melindungi kami dari sengatan langsung matahari.
Setelah istirahat dan makan, kami bergegas melaksanakan sholat, menjama' takhir ashar dan dzuhur, tidak ada air jangankan untuk wudhu, untuk bekal minum saja sudah sangat limit.. fyuuuh,, benar-benar perjalanan yang subhanallah.
Karena tempat yang tidak cukup menampung sekitar 25an peserta yang akan melaksanakan sholat, akhirnya kami dipecah, sebagian melaksanakan sholat di TKP, sisanya diarahkan untuk melaksanakan sholat di puncak, yang katanya sekitar setengah jam saja, saya mengikuti beberapa peserta akhirnya berjalan menuju puncak, jalurnya masih menanjak meski tidak seterjal yang sudah-sudah, tapi tetap saja menuntut kami menyibak tumbuhan-tumbuhan khas ketinggian yang malang melintang sepanjang jalur.

Rupanya ujian tidak selesai sampai disitu, untuk mencapai puncak, kami masih harus mendaki tebing yang baru bisa dilalui dengan bantuan webbing dan carnmentel (lagi), sedangkan waktu semakin limit, beberapa peserta berhasil sampai dipuncak, dan saya juga banyak peserta lain, nampaknya harus ikhlas gagal muncak ke ketinggian 1600mdpl itu, nyesek memang, tapi ya, bisa apa.

Saya rasa, apa yang saya cari telah cukup saya dapatkan, tidak mesti sampai ke puncak, saya telah mendapat pelajaran dari perjalanan ini, bahwa puncak hanyalah rupa keegoisan kita ketika begitu ingin menggapainya, dan sebenarnya, puncak juga bukanlah tujuan akhir, ia hanya bonus dari sebuah perjalanan panjang, karena nyatanya (sejauh yang saya tahu) sangat jarang saya menemui pendaki yang ingin tinggal lama di puncak apalagi menetap disana, hehe. karena ya,, memang yang menjadikan gunung itu istimewa, ya karena ketidakbiasaan kita menikmatinya #mungkin

Dikejauhan terlihat anak-anak yang masih menggantung di tebing, turun dari puncak, dan kami segera balik kanan. Mendung mulai menyelimuti langit sore itu, dan hujan pun, yang seharusnya membahagiakan berubah wujud menjadi bentuk kekhawatiran, membayangkan medan turun yang akan kami tempuh sangatlah istimewa.

Benar saja, setibanya di pertigaan sireum beureum, air-air langit itu mulai jatuh satu-satu, kami semua begegas untuk turun meninggalkan lokasi, lengkap dengan raincoat yang telah kami kenakan. tidak sampai 15 menit kami berjalan turun, hujan menderas disertai kilat dan petir, geluduk juga menambah ramai perjalanan kami.
Jalur pun menjadi sangat licin, dan entah sepanjang apa, kami turun dengan cara "merosot" di jalur yang telah berupa trek lumpur, masih dengan bantuan webbing dan carnmentel kami berjalan dengan terpapah, langit semakin gelap, hujan menderas, membuat suasana hutan terasa hmmm, horor. hehe lama, kemudian sayup terdengar suara adzan di kejauhan, pertanda telah memasuki waktu maghrib, rencana kembali ke asrama pukul 5 sore pun pupus, tak ada tempat berteduh atau lahan untuk sekadar memasang flyset, sepanjang jalur hanya berupa jalan setapak, dengan tumbuhan rotan berduri sebelah kanan dan jurang sebelah kiri yang tertutup timbunan humus, dalam kondisi seperti itu, peserta yang tadinya freak pun, mulai menunjukan kecemasan, beberapa menanyakan kapan sampai, mulai kedinginan, dan lelah tentu saja. Saat itu, pembina memprediksi mungkin sekitar isya kita sampai di perkampungan, cukup menghibur, bahwa perjalanan tak akan lama lagi. Hujan mulai reda, tapi langit telah sempurna gelap, dengan bantuan penerangan, kami melangkah pelan-pelan diatas tanah yang menjadi lumpur, bertumpu pada webbing yang telah di bentangkan dari pohon ke pohon. Isya sudah berlalu, jarum jam di pergelangan tanganku hampir menuju angka 8, penerangan mulai redup, dan entah beberapa kali juga ponsel yang saya simpan dalam ransel bergetar, panggilan masuk dan pesan singkat, sudah saya diduga, pasti orang asrama yang khawatir, Bang Kur, yang sepanjang jalur ada di belakang saya menyarankan agar saya menjawab teleponnya, dengan kondisi tangan yang penuh lumpur, saya pun membongkar ransel dan mencari sumber getaran itu, 5 missed call, 4 message. beruntungnya, sinyal si merah pun si kuning cukup stabil, salah satu pesan memberitahu, bahwa masyarakat setempat akan naik menyusul kita. Deg.. jadi tambah panik, tapi karena menurut pembina keadaan masih bisa dikondisikan, lewat sms, kami pun meminta masyarakat untuk bertahan saja. Di tengah perjalanan tiba-tiba peserta di depan saya stag, tak bisa bergerat, setelah mencari tahu, ternyata ada peserta yang collapse, setelah coba di tapping, mungkin faktor lelah juga, kondisinya tidak kunjung membaik, dan terpaksa harus dievakuasi dengan membawanya turun menggunakan tandu, 1 jam berlalu untuk proses evakuasi, yang memang kami cukup kesulitan, selain penerangan yang kurang, kondisi yang masih gerimis, panitia juga dalam keadaan menggigil, peserta juga pingsan di tempat yang sangat tidak strategis #duuh.

Saya tidak tahu level kekhawatiran masyarakat malam itu, tak lama beberapa penduduk datang membantu dan menggotong peserta kami yang pingsan, dalam keadaan licin dan menurun seperti itu, kami saja yang hanya menggendong ransel sangat kesulitan, bagaimana mereka menggotong manusia,#haduuh, jempol deh buat bapak-bapaknya.
Jam 10 masih di tengah hutan, dan hampir tersesat juga, peserta mulai galau, beberapa memanfaatkan waktu mengantri untuk tidur, lapar? pasti, menikmati macam-macam biskuit rasa lumpur yang menempel ditangan, tak ada air minum karena perbekalanya sudah habis, beberapa, saya temukan juga sedang menangis, masya Allah, saat-saat seperti itu, hanya pertolongan Allah yang benar- benar kami yakini, tak peduli lagi bakalan sampai jam berapa, kami selamat, itu satu pengharapan terbesar kami.

Penduduk yang naik mulai banyak, jalur licin dan batuan pun terasa semakin menyiksa dalam keadaan yang ngantuk, rasanya ingin terpejam dan ketika membuka mata kami sudah tidur nayman di kamar, tapi sebagai yang paling tua (T_T) diantara anak-anak itu, saya harus lebih bisa meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. sms dan telpon dari asrama pun bergantian, saya bisa membayangkan kekhawatiran mereka, mengetahui anak-anaknya malam-malam terjebak di tengah hutan yang hujan >_< "ajiw, suara kamu udah mulai lemes" fyuuuh nada khawatir nya malah bikin tambah lemes.
Sekitar pukul 11, kami keluar dari hutan, memasuki kawasan savana, disana sudah ramai penduduk yang menunggu, termasuk dari kantor juga yang menyusul, jalan mulai terang, cahaya purnama malam itu tak terhalang apapun, indah, Subhanallah !! cukup mengobati lelah kami.

Kurang lebih setengah jam dari situ, tibalah kami di pemukiman penduduk, disana sudah nampak ramai, dengan wajah-wajah penuh kekhawatiran menunggu kedatangan kami, teh hangat pun disediakan untuk kami (baik banget T_T), tak menunggu lama, kami segera membersihkan badan sekadarnya, cukup membuang lumpur yang membuat semua pakaian kami menjadi seragam warna cokelat >,<.
Setelah merasa nyaman, kmi pun pamit, dan satu per satu peserta menaiki merah saga yang telah menunggu kami sejak sore.

Perjalanan meninggalkan pemukiman penduduk, menembus selimut kabut tengah malam itu, sekitar pukul satu dini hari kami tiba di asrama, dan saya kembali ke rumdis, disana nampak bunda ( yang kami "orangtua" kan) menunggu dengan mata ngantuk pun khawatir, dengan segelas teh madu hangat yang sengaja disediakan buat saya *terharu, sambil sedikit bercerita, karena sudah larut juga, bunda harus segera istirahat, dan saya pun sudah sangat tidak nyaman dengan kondisi yang kotor itu >,<. Usai bersih - bersih total, saya pun segera melabuhkan badan di  tempat tidur dan. Zzzz mata pun terpejam.


Beberapa penampakan perjalanan yang melahirkan cerita panjang ini .. hehehehe
penampakan gn. Tampomas Sumedang

Jumat, 01 November 2013

~suatu hari nanti~

Aku ingin menikmati hujan bersamamu, berjalan bersisian pada senja penghabisan.
Pada tiap rinainya kita melangitkan do'a, dan membumikan bahagia,
yang pada tiap gaduh tetesnya, ada aamiin yang sunyi.
Hingga mereka menyaksikan bahwa kita layak mendapatkan bahagia,
di bumi kini, dan di langit kemudian.
Suatu hari yang haru nanti, sayang.



Hujan pada langit permulaan Nopember