Sabtu, 07 Desember 2013

Bukan Cleopatra

Gelap telah menyelimuti langit yang kupandang, sesekali angin dingin menyentuh bagian paling luar kulitku, diantara tumpukan cerita yang telah mengabadi dalam lembar - lembar kertas, yang paling setia mengantarku pada lelap beberapa tahun ini. Tanpa aba-aba, gerimis tumpah dalam ruang persegi 4x4. Akhir-akhir ini aku merasa lebih sering menarik nafas, dalam.


Perasaan kalah ini benar-benar membuatku kesepian. Aku, 21 tanpa keahlian apapun, melakukan sesuatu secara mendatar tanpa tanjakan-tanjakan yang berarti, tak rupawan, tak berpendidikan tinggi, bertingkah bocah dan aneh. Jadi, bagaimana bisa aku percaya diri untuk bersisian dengan orang-orang sepertimu. meski begitu, aku tetap bersyukur, beberapa orang masih bisa menerimaku dengan kesabaran yang penuh, meski tak jarang juga dari mereka yang perlahan membuangku.-menjadi seseorang yang benar-benar dilupakan-

Aku tak sanggup bercerita tentang apa yang telah kuhasilkan, karena seringnya memang aku tak berhasil. Tapi setidaknya aku masih memiliki harapan yang bisa terus ku pelihara, meski harapan-harapan itu banyaknya tak pernah berumur panjang, dan berakhir dalam ketakberwujudan. Tapi tak perlu khawatir, aku selalu bisa menumbuhkannya lagi, dan lagi.

Hey, tak usah khawatir, tidak semua orang memperlakukanmu seburuk itu.
masih ada orang yang begitu peduli dan menyayangimu, bahkan melebihi orang-orang yang seharusnya menyayangimu.

Dan, lebih itu lah yang membuatku selalu takut dan tak percaya diri, bagaimana jika ternyata aku bukanlah orang yang baik dan tepat untuknya, takut tak berhasil membahagiakannya, bagaimana jika suatu hari nanti aku mengecewakannya, mempermalukan, dan bayang-bayang sejenis ini selalu saja melelahkan. Tapi, ketakutan ini juga yang akhirnya selalu mendorongku untuk menjadi seorang yang lebih baik, perubahan kecil yang meskipun tak menjadikan ku seimbang bersisian dengannya, setidaknya menjadikanku pantas dan tak memalukan dalam pengakuannya kelak, harapanku.

Harapan-harapan besar dan indah yang disuguhkannya itu, meskipun tak pernah tahu apakah benar itu untukku, tapi aku telah terlanjur naif, menerimanya sebagai cara untuk membahagiakan diriku sendiri.

Aku harus lebih kuat, dan aku hanya bisa berdo'a. Hanya do'a, karena aku tak pernah memiliki kekuatan yang lain selain itu.
Semoga Tuhan mengizinkan dan menyegerakan untukkku membahagiakannya.

“Aku pernah merasa menjadi manusia paling dikhianati di dunia, atau paling bersalah, atau paling bermasalah, atau paling tak beruntung hidupnya. Aku pernah berjalan sendirian di pinggir jalanan kota, pada senja penghabisan, sementara bus dan mobil-mobil berjalan seperti manusia-manusia lainnya yang tak perhatian. Aku pernah merasa tak punya teman untuk sekadar mendengarkan apa yang kurasakan.”-fahd-





Di pintu senja, menunggu hujan reda.
*NP
  David Archuleta - A Little Too Not Over You

5 komentar:

  1. saya suka kutipan yang paling bawah..
    yaa, saat kita tak menemukan seseorang untuk jadi tempat berbicara sedikit pun

    BalasHapus
  2. selamat siang, niz.
    sudah lama ngga ke sini. Dulu-dulu, kamu tutup ya rumahmu?
    dan eh, beruntunglah karena kamu bukan cleopatra. Dia mati sia-sia... bukan karena digigit ular, tapi karena minum opium.
    big smile :'D

    BalasHapus
  3. saya suka.. saya suka...

    blogwalking pagi...

    BalasHapus
  4. Aku tak sanggup bercerita tentang apa yang telah kuhasilkan, karena seringnya memang aku tak berhasil.
    usaha dan harapanku lah yang memaksaku tetap berjuang. :D nice

    BalasHapus