Rabu, 03 Desember 2014

Senja yang Menangis Dalam Tidur





Namanya Senja. Penampilannya senantiasa hangat, ceria, dan memikat. Meski dia sedikit rapuh dan juga perasa. Membalut setiap kesedihan dengan senyuman hangat adalah keahlian terbaiknya. Setiap orang akan merasa nyaman bersamanya; entah ketika hujan sedang turun, ataupun ketika mentari terik yang menyengat perlahan minggat bersama kehadirannya yang singkat. Senja tahu, bagi sebagian mereka kehadirannya adalah helaan napas panjang setelah kelelahan yang mendera. Kehadirannya adalah sebuah kata pulang bagi sebuah perjalanan. Sayangnya, Senja tidak bisa mencintai dirinya sendiri dengan baik seperti halnya mereka yang memujanya. Senja selalu saja merasa ketakutan pada matahari yang pergi di ujung hari, pada suasana gelap yang menjelang, dan pada kesunyian yang menemani rehatnya waktu.

Hingga suatu ketika Senja mengenal Awan. Awan begitu mengagumi keindahan rembulan, dan tentu saja dia mencintai Senja yang menjelang, dan malam gelap yang datang. Awan tahu cara mencintai dirinya sendiri dengan baik. Dia bahkan tidak pernah lupa menggenggam Senja ketika ujung hari benar-benar tiba dan ketakutan pada diri Senja kembali mendera. Awan juga mengajarkan Senja cara untuk mencintai hujan. Awan kerap kali membuat Senja tersenyum bahagia dengan menurunkan ribuan kubik hujan sepanjang hari. Senja mulai belajar mencintai dirinya sendiri, dan tentu saja; Awan.

Senja & Awan. Sebuah episode panjang yang penuh dengan impian. Ada cinta Senja di sana. Ada kesejukan Awan di dalamnya. Malam, rembulan, bintang, hujan, bahkan mentari pun terpaut di dalam kisah perjalanan syahdu Senja dan Awan. Meski terkadang angin menerpa terlampau kencang untuk melukai Senja dan Awan, mereka tetap bertahan.

Lalu sebuah hari yang kelam datang. Senja jatuh dan terluka. Seperti itulah Senja; dia bisa saja nampak hangat dan kuat, meski sebenarnya dia begitu rapuh dan perasa. Hari itu entah mengapa Awan tidak ada di sekitarnya. Senja merasa begitu takut dan payah. Dia tertatih mencoba bertahan. Ketakutannya pada ujung hari tiba-tiba saja kembali dan merasuki ruas-ruas perasaannya. Dia hanya bisa merasakan kebekuan, perih, dan keletihan yang sangat. Senja tahu Awan selalu melihatnya, meski tidak menopangnya.

Senja penuh dengan luka. Namun ia masih mencoba berjalan, bahkan berlari. Ia tahu Awan selalu melihatnya, meski tidak menopangnya. Itu cukup buat Senja. Sungguh, itu cukup buat Senja. Sampai suatu ketika, Senja tak lagi sanggup berjalan terlalu cepat dan Awan menghilang ditelan gelap. Di tengah keputusasaan dan perih di setiapnya; tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Mengguyur Senja dengan begitu keras. Senja suka hujan. Tapi kali ini hujannya terlampau deras. Senja tertatih payah karena luka yang kian menganga dan terasa begitu perih. Di sudut ketakutannya, Senja hanya bisa bertanya dalam hati; mengapa Awan harus menurunkan hujan untuk melukainya? Bukankah selama ini Awan yang mengajarkannya cara untuk bahagia?

Senja hanya diam. Dan untuk pertama kalinya Senja begitu ketakutan pada hujan. Senja ingin sekali menangis. Sayangnya, Senja hanya diciptakan untuk menghadirkan kehangatan dan bukan melampiaskan kesedihan. Maka semenjak hari itu, Senja selalu menangkupkan kedua lengannya dan tertidur di sebuah sudut ketika semua telah terlelap; untuk kemudian menangis sesenggukan di dalam tidurnya yang resah.


*Setelah sekian lama, aku kembali menulis. Aku pernah bilang, mungkin seorang penulis amatir sepertiku hanya bisa menulis dengan baik ketika hatinya sedang tidak baik. Ah, entahlah. Tapi aku menyesali ucapanku kala itu. Mungkin ini akan menjadi yang paling sulit kau pahami, namun semoga bukan yang terakhir.

Kawan, maafkan aku ya...
jika aku pernah membuat luka, namun aku tetap berlalu tanpa berpaling dan membasuh perihnya. Aku tahu rasanya perih itu seperti apa, tapi terkadang keegoisan membuatku enggan bergeming.
Kumohon, tolong doakan yang baik-baik buatku ya, selalu :)




Diposkan oleh Nik Salsabiila Selasa, 02 Desember 2014















Jumat, 24 Oktober 2014

Akhirnya nanti



Pada saatnya nanti, kau akan sampai pada masa ketika kau tak menemukan siapapun lagi disekitarmu. keluargamu, sahabatmu, bahkan orang yang pernah mengaku begitu menyayangimu pun, satu persatu akan pergi meninggalkan. Segala yang terjadi bukan tanpa alasan, tentu saja. Mungkin karena telah menemukan kehidupan yang lebih baik, berganti prioritas, atau bisa juga karena kau tak cukup bermanfaat lagi bagi mereka, atau mungkin alasan-alasan yang lain yang tak kau tahu. Kau terlalu lambat mengejar ketertinggalan. Dan kau tak bisa berbuat apapun kecuali terus memperbaiki diri sambil mengimani takdirmu, seolah kehidupan senang sekali mencandaimu dengan cara seperti ini.
Memang begitulah kehidupan dunia, semua hanya senda gurau, kan? dan kau, tak perlulah terlalu berlarut meratapinya, ada saatnya semua senda gurau ini juga berakhir. Sejatinya mereka telah berperan cukup banyak untuk menjadikanmu lebih kuat, jadi apa yang mesti disesali, apa yang mesti dibuat sedih? Ketiadaan mereka juga yang telah membuatmu sadar, bahwa tidak ada yang bisa kau andalkan selain dirimu sendiri, bukan kah itu sangat menyenangkan?. Lagi pula, seandainya mereka tetap memilih setia bersamamu, apakah kau berani menjamin bahwa kau bisa mengantarkan mereka pada kehidupan yang lebih baik, lebih layak?
Bagaimanapun, hidupmu adalah tanggung jawabmu. Kebahagiaanmu tak bisa kau pinta dari orang lain. Ada banyak hal yang mesti kau lanjutkan, kebahagiaan yang tetap harus kau perjuangkan, meski kebahagiaan itu tak langsung sampai ketanganmu, ia bisa datang kepada orang-orang yang kau cintai, karena seringnya, kebahagian mereka menjadi sumber terbesar kebahagiaanmu juga.
Dengan ataupun tanpa mereka, hidupmu akan baik-baik saja. jikapun sebaliknya, setidaknya kau tetap menjadi lebih kuat.

Tersenyumlah, Allah takkan kehabisan cara untuk membahagiakan mu.




Tuhan, sengajakah kau mengantarkanku pada hening ini, agar aku lebih dekat padaMu? Kau cemburu?
Subang, pada sore disetengah windu hijrahku

Senin, 29 September 2014

Langit semoga(ku)

Nyaris tak ada semoga-semoga yang tersisa untuk kutulis, sebab ia telah lebih dulu menguap ke langit, ketika malam menjadi sejatinya; Sunyi. Berharap ia kembali ke bumi dalam wujud pengabulan-Nya.
Pada detik ketika ranting usia  meranggas satu-satu, semoga disusul dengan tumbuhnya pucuk-pucuk syukur yang semakin subur

Selamat mengulang Septembermu, selamat memanen do'a-do'a dari benih kebaikan yang kau semai pada banyak wajah yang tersenyum karenamu.
Semoga Allah menjaga kebaikan dunia dan akhiratmu..
Semoga Allah selalu mencintaimu, lebih dari cinta terbesar yang mampu kami berikan.
Barokallah, semoga dipanjangkan usia dalam keberkahan dan ketaatan.

Hey..Cheers Up !!
Selamat menyambut hari-hari yang semakin menghebatkanmu ({})

Minggu, 06 Juli 2014

Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme.
Melakukan hal-hal hebat, menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru.
Tergelak dan gembira, membuat semua orang berpikir hidupmu telah sempurna.

Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu.
Bahkan, langit membentuk auranya.
Udara bergerak mendesaukan suaranya.Bulan melengkungkan senyumnya.

Bersiaplah..
Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan.
Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.


      dikutip dari novel karya TasaroGK

Kamis, 05 Juni 2014

Hujan (pertama) bulan Juni

Pada tiap-tiap do'a yang kulangitkan kala hujan menyapa bumi, petrichor yang menyapu jejak kemarau yang risau.
Lewat kepulan asap dari secangkir coklat panas aku menemukan keteduhan yang lain yang disuguhkan hujan, dan lewat matamu aku menemukan hal yang sama yang telah mati-matian kusembunyikan setiap kali kita tak sengaja bertemu pandang; tentang harapan dan kekhawatiran, rindu dan ketakutan, cinta dan keberanian.
Kemudian aku tahu, diam-diam kau juga telah membacanya dari mataku.
Diam-diam, kita telah melangitkan do'a yang sama karenanya, meski tak selalu, tapi kita pernah.
Aku cukup mengerti perjalanan (rasa) ini tak seringan terlihatnya hujan terjun dari langit ke bumi.
Karenanya, semogaku kali ini tentang kelapangan hati jika suatu hari harus menyaksikanmu menyerah yang artinya aku akan melanjutkan perjalan yang terlanjur ku mulai ini sendirian.
Tak ada yang salah, ketika akhirnya kau memilih pergi dan meninggalkanku, aku tahu, bukan berarti kau tak bersungguh-sungguh memperjuangkanku, hanya saja begitu banyak hal dalam hidup ini yang memang tak bisa dipaksakan.

Ada orang-orang baik yang sengaja dihadirkan dalam hidup kita hanya untuk menguji perasaan kita. Bukan untuk menjadi pasangan hidup kita.

Senja di Hujan pertama bulan juni.
__Np: one last cry; Brian mcknight__





Kamis, 13 Maret 2014

Gagal puisi

Apakah hanya karena baru berupa kata, lalu ia menjadi dusta, sayang?
Nyatanya memang baru dengan cara seperti ini aku bisa mencintaimu,
Lewat puisi yang sembunyi-sembunyi dan do'a-do'a sunyi.

Kamis, 06 Maret 2014

[Repost] Jika Istrimu seorang pecinta alam



Respon apa yang pertama kau beri saat kamu membaca CV, dan melihat naik gunung, sebagai aktivitas favorit calon istrimu ini? Mungkin kamu akan terkejut, mungkin ilfill, atau tidak terlalu peduli. Entah apa pun responmu itu, toh pada akhirnya kamu menerimaku sebagai partner hidupmu.

Sayang,

Jika kamu bertanya padaku tentang destinasi liburan kita setelah menikah, mungkin aku akan meminta Rinjani, bukan Bali. Aku lebih memilih tenda kapasitas dua yang kokoh dibandingkan hotel berbintang yang megah. Setelah menikmati puncak bersama, barulah kita berkelana di Senggani, tiga Gili, Pantai Kuta, dan desa adat di Lombok. Jika kamu ingin ke Eropa, aku pasti akan meminta Mont Blank sebagai salah satu destinasi kita. Ah..lupakan soal Eropa dan benua lain, karena aku masih jatuh cinta dengan pegunungan di negeri ini. Kamu tahu Semeru sayang? Pastilah, nama gunung ini melejat pesat semenjak sebuah film mengangkatnya dengan begitu sukses. Jika kamu belum pernah ke sana, kamu harus. Di bulan Juni yang cerah, padang oro-oro ombo menyapa di balik tanjakan cinta, dengan hamparan lavender ungu yang menggoda mata. Tidak kalah romantis dibandingkan Monet’s Garden, Prancis. Tidak sampai Mahameru juga tidak apa, karena menjelajahi Semeru bersamamu lebih kuinginkan dibandingkan menegakkan merah putih di puncak tertinggi Pulau Jawa.

Tapi ini bukan tentang perjalananku, ini adalah tentang perjalanan kita. Jika kamu tidak ingin mendaki gunung bersamaku tidak mengapa, kita masih bisa meyusuri pantai dan menyapa senja bersama. Kalau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sehingga kita tidak sempat bercengkarama dengan alam, itu juga tidak mengapa. Aku akan membawakan pagi untukmu dalam secangkir kopi. Jika kamu tidak suka kopi tidak mengapa, akan kulukiskan purnama dalam segelas susu. Jika kamu tidak menyukai susu, itu juga tidak mengapa, aku akan membawa kehangatan mentari dalam setiap masakan yang kau sukai.

Tapi my dear, aku akan tetap menyukai bintang yang bertabur bintang tanpa sekat. Aku akan tetap menyukai pelangi di padang savana setelah hujan yang mengguyur semalaman. Aku akan tetap menyukai mata air, pegunungan, embun, edelweiss, daisy. Meskipun ketika sudah bersamamu, aku tidak akan sempat bermain bersama mereka. Tidak mengapa. Tapi, anak-anak kita nanti harus dibesarkan oleh alam dear, bukan oleh kota besar. Anak laki-laki kita harus bisa memanjat pohon, dan bermain di sawah. Anak perempuan kita harus pandai berenang.

Percayalah, alam akan membentuk mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berjiwa besar. Saat mereka bisa berbuat baik pada burung perkutut yang terluka, maka mereka akan dengan sangat mudah mencintai sesama. Saat mereka tanpa rasa takut, berani menyapa kuda, bahkan menungganginya, maka mereka juga tak akan pernah takut untuk jatuh. Kau tahu kenapa Sayang? Karena Allah berfirman bahwa Dia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, amanah yang bahkan semesta ini tak sanggup memikulnya. Maka biarkan anak-anak kita menjalankan amanah itu. Begitu pun kita.

My Dear, aku tidak memiliki keanggunan seorang Ratu, kecantikan seorang putri, atau kedudukan setinggi anak dari orang terpandang. Aku hanyalah aku, seseorang yang mencintai alam. Aku tidak bisa bermain biola, tapi aku bisa menyelam. Aku tidak pandai berdansa, tapi kupikir kita tak butuh itu kan? Aku suka memasak, tapi aku tak bisa memasak makanan Eropa untukmu. Aku benar-benar seorang gadis biasa. Kesederhanaan adalah bagian dari hidupku. Bahkan meski aku lahir dan dibesarkan di ibukota, aku tetap mencintai pedesaan. Kau tahu kenapa? Karena kesederhanaan itu mengajarkan banyak hal. Dan hal itulah yang kusukai dari suamiku. Kamu yang tetap sederhana, meskipun mungkin kamu adalah orang yang bisa membeli dunia. Kesederhanaan pula yang akan tetap membuatku berada di sampingmu, bahkan di masa-masa terpurukmu sekalipun.

Nah sayang, bagaimana jika kamu juga sama sepertiku? Sama-sama menyukai alam? Kamu pasti bisa menerkanya, bahwa perjalanan menua bersama kita, akan dipenuhi oleh serangkaian petualangan yang tak terlupakan.

Aku adalah pecinta perjalanan, sayang.
dan menikmati perjalanan bersamamu, adalah hal yang takkan selesai kurindukan.

Suatu hari nanti.

sumber

Senin, 24 Februari 2014

Dalam Do'aku


Oleh: Sapardi Djoko Damono

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah
dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang
hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap
di dahan mangga itu

maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun
sangat pelahan dari nun di sana, bersinjingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi
kehidupanku.

*Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendo'akanmu