Jumat, 24 Oktober 2014

Akhirnya nanti



Pada saatnya nanti, kau akan sampai pada masa ketika kau tak menemukan siapapun lagi disekitarmu. keluargamu, sahabatmu, bahkan orang yang pernah mengaku begitu menyayangimu pun, satu persatu akan pergi meninggalkan. Segala yang terjadi bukan tanpa alasan, tentu saja. Mungkin karena telah menemukan kehidupan yang lebih baik, berganti prioritas, atau bisa juga karena kau tak cukup bermanfaat lagi bagi mereka, atau mungkin alasan-alasan yang lain yang tak kau tahu. Kau terlalu lambat mengejar ketertinggalan. Dan kau tak bisa berbuat apapun kecuali terus memperbaiki diri sambil mengimani takdirmu, seolah kehidupan senang sekali mencandaimu dengan cara seperti ini.
Memang begitulah kehidupan dunia, semua hanya senda gurau, kan? dan kau, tak perlulah terlalu berlarut meratapinya, ada saatnya semua senda gurau ini juga berakhir. Sejatinya mereka telah berperan cukup banyak untuk menjadikanmu lebih kuat, jadi apa yang mesti disesali, apa yang mesti dibuat sedih? Ketiadaan mereka juga yang telah membuatmu sadar, bahwa tidak ada yang bisa kau andalkan selain dirimu sendiri, bukan kah itu sangat menyenangkan?. Lagi pula, seandainya mereka tetap memilih setia bersamamu, apakah kau berani menjamin bahwa kau bisa mengantarkan mereka pada kehidupan yang lebih baik, lebih layak?
Bagaimanapun, hidupmu adalah tanggung jawabmu. Kebahagiaanmu tak bisa kau pinta dari orang lain. Ada banyak hal yang mesti kau lanjutkan, kebahagiaan yang tetap harus kau perjuangkan, meski kebahagiaan itu tak langsung sampai ketanganmu, ia bisa datang kepada orang-orang yang kau cintai, karena seringnya, kebahagian mereka menjadi sumber terbesar kebahagiaanmu juga.
Dengan ataupun tanpa mereka, hidupmu akan baik-baik saja. jikapun sebaliknya, setidaknya kau tetap menjadi lebih kuat.

Tersenyumlah, Allah takkan kehabisan cara untuk membahagiakan mu.




Tuhan, sengajakah kau mengantarkanku pada hening ini, agar aku lebih dekat padaMu? Kau cemburu?
Subang, pada sore disetengah windu hijrahku

2 komentar:

  1. Bait terakhir itu, kalimat yang manis

    BalasHapus
  2. Aih, koq mengharukan gini bacanya ya :'(

    We never walk alone, jiw...

    BalasHapus